Jual alat musik Dayak Lihat Produk!

Mesin Pembunuh Kebudayaan

Sebenarnya siapa mesin pembunuh kebudayaan
mesin pembunuh kebudayaan

Teknologi dan Kebudayaan - Berbicara tentang kebudayaan tidak terlepas dari kehidupan manusia sebagai penopang kebudayaan. Kebudayan dianggap sebagai jati diri suatu masyarakat, mencakup semua karakteristik dan keunikan masyarakat pemiliknya. Kebudayaan juga sebuah bahasa universal yang mempunyai nilai penting sebagai pengejawantahan dari pemikiran, perilaku, hasil karya manusia. Segala sesuatu yang terstruktur dan melekat dalam kehidupan masyarakat lalu disepakati bersama sebagai milik mereka akan dianggap bagian dari kehidupan masyarakatnya. 

Karakteristik budaya inilah yang akhirnya ditafsir sebagai penbentuk kebudayaan nasional. Artinya kebudayaan nasional itu tumbuh dengan sendirinya melalui keberagaman budaya yang ada di Indonesia. Satu hal yang perlu difahami, ciri khas atau karakter unik pembentuk kebudayaan nasional itu tidak dibentuk secara sengaja. Dia akan membentuk karakter dan kepribadiannya sendiri, sehingga kebudayaan indonesia yang mempunyai keragaman itu menjadi sebuah ciri khas kebudayaan bangsa, yaitu indonesia yang berperadaban yang tidak pernah sama dengan peradaban manapun. 

Keunikan dan karakteristik budaya yang ada pada masing-masing daerah adalah aset kekayaan bangsa yang seharusnya dijaga. Karena kebudayaan adalah aset pendidikan dasar manusia yang beradab. Dapat dikatakan budaya sebagai pondasi peradaban masyarakat dengan segala keunikan dan keindahannya yang menjadikan manusia itu mempunyai kehormatan. Artinya manusia itu beradab karena berbudaya, dan karena adab kebudayaan akhirnya manusia mempunyai peradaban. 

Hal pertama yang diukur dalam tinggi rendahnya sebuah peradaban bukan dari kemajuan teknologi, namun dilihat dari seberapa jauh masyarakat dapat menjaga budayanya dan menjadikannya sebagai pedoman kehidupan. Teknologi hanya menjadi penanda dari kemajuan peradaban. Namun jika peradaban tidak dapat dipertahankan, maka teknologi akhirnya menjadi sebuah keniscayaan sesaat, namun tidak melahirkan karakteristik berke-adab-an. Dia tidak menjadi ciri khas atau karakteristik dari kehidupan masyarakat itu sendiri. Teknologi hanya dimanfaatkan untuk mengatasi kebutuhan hidup, namun tidak mempunyai karakter kehidupan suatu masyarakat.

Ketika kebudayaan mulai pudar, maka teknologi mengambil peranan dalam kehidupan. Racun-racun teknologi timbul karena kebanyakan orang salah menafsir kebutuhan akan teknologi. Kebanyakan orang memandang teknologi sebagai keniscayaan yang akhirnya menjadikan kebutuhan, bahkan lebih parah lagi menjadikannya sebagai pedoman hidup. Kebanyakan orang lupa bahwa teknologi hanya alat untuk mendukung kehidupan itu menjadi lebih mudah dan cepat. 

Pada sisi lain, pemikiran akan laju perkembangan teknologi akhirnya dipandang membahayakan bagi ketahanan budaya. Teknologi dianggap sebagai mesin pembunuh untuk kebudayaan, sehingga beramai-ramai orang, kelompok atau lembaga, sampai instansi pemerintah mulai bergerak serentak menjaga budaya dari hantaman kemajuan teknologi. Tanpa sengaja teknologi dianggap sebagai ancaman serius yang bisa membinasakan keberlangsungan kebudayaan. Pada saat inilah timbul dilematik opini, bahwa suatu yang dipandang dapat mengatasi masalah kehidupan, namun sekaligus dianggap dapat membinasakan kebudayaan manusia itu sendiri. Banarkah demikian?

Dulunya saya juga menganggap bahwa teknologi adalah sebuah racun pembunuh yang dapat mematikan kebudayaan secara perlahan. Namun pemikiran terbalik saya mulai menggelitik ketika saya banyak berdiskusi dengan kawan-kawan penggiat budaya. Dari beberapa pandangan mengenai kemajuan teknologi, akhirnya saya mendapat sebuah pencerahan. 

Pandangan awal yang timbul, seharusnya teknologi tidak hanya dianggap sebagai alat belaka. Karena jika teknologi dianggap alat pemecah masalah kehidupan dan pemuas selera atau kebutuhan, maka teknologi itu akan menguasai sebagian besar kehidupan manusia. Kesalahan tafsir terhadap perkembangan teknologi ini akhirnya menjadikan kita sesat mengartikan teknologi dalam kehidupan. Lalu kita menyangka bahwa teknologi menjadi mesin pembunuh kebudayaan dan akhirnya banyak orang atau kelompok berbondong-bondong bergerak menyelamatkan kebudayaan. Teknologi dianggap musuh besar sekaligus dewa penyelamat kehidupan. 

Kesalahan besar kita menganggap keberadaan budaya itu berbahaya dengan masuknya teknologi. Kita anggap kebudayaan lemah dan tidak mempunyai filter untuk menangkal serangan teknologi. Pada sisi lain kita menganggap teknologi sebagai mesin pembunuh. Satu sisi lainnya kita anggap budaya itu lemah sehingga harus dilindungi. Kontradiksi pemikiran itu sama sekali tidak berdasar, namun terus saja bercokol dalam pemikiran kita dan menjadi hantu yang menakutkan.

Otak kebudayaan itu adalah manusianya. Artinya penopang kebudayaan itu adalah masyarakat itu sendiri. Manusialah yang menjadi pondasi kebudayaan. Unsur kebudayaan yang melekat pada manusia itulah yang bisa membuat kebudayaan itu tetap ada dan berkembang sesuai pemikiran, perilaku, dan hasil karya manusia. Karena kebudayaan tidak akan ada dengan sendirinya. Kebudayaan ada dan berkembang sesuai perkembangan intelektualitas dan kreatifitas manusianya.

Kebudayaan itu bergerak dinamis, dan dia akan bergerak ketujuannya tanpa terpengaruh teknologi. Pergerakan budaya itu tidak menolak kehadiran budaya asing, dia tetap saja bergerak maju dan akan membentuk karakternya sendiri. Jadi sebenarnya yang diserang itju adalah kita sendiri sebagai manusia atau makhluk berbudaya. Hanya saja kita tidak merasakan kalau kita menjadi target serangan teknologi. Logikanya budaya itu akan hilang karena hilangnya nilai keagungan dan penghormatan kebudayaan. Nilai penghormatan dan keagungan itulah yang melekat dialam pikir manusia. Jika tidak ada manusia maka kebudayaan juga akan sirna. 

Namun timbul pertanyaan, banyak kebudayaan yang hilang sedangkan manusianya masih ada. Mengapa demikian? Coba kita berpikir ulang, teknologi itu hadir dan digunakan manusia. Manusia adalah pembentuk kebudayaan. Jika otak kebudayaan yang ada pada manusia, maka perubahan itu akan membentuk wajah baru sesuai dengan perkembangan manusianya. Jadi kebudayaan itu awalnya tidak terpengaruh, namun yang terpengaruh adalah manusianya. Katika kebiasaan berubah, maka berubah juga kebudayaan.

Perubahan kebutuhan akhirnya menyebabkan perubahan pandang manusia terhadap kebudayaan. Lalu kita beralasan menciptakan budaya baru dengan menyesuaikan perkembangan teknologi. Bukankah yang diserang itu adalah manusianya, bukan budayanya. Lalu mengapa kita selalu melempar opini menjaga budaya dari serangan teknologi? Bukankah ini menjadi salah tafsir, sehingga teknologi dipersalahkan. Aneh saja ketika teknologi dianggap mesin pembunuh, namun kita sangat memerlukan teknologi itu untuk kehidupan. Jadi, yang salah itu teknologi atau kita sesat dalam menafsir teknologi?

Perkembangan teknologi sebenarnya baik-baik saja, asalkan kita bisa bijak menerima dan menggunakannya. Arti bijak disini adalah menempatkan teknologi sesuai proporsi dan batasan kebutuhan. Secara gampangnya, gunakan teknologi sewajarnya dan untuk tujuan membangun kebudayaan, karena perkembangan itu juga memerlukan teknologi untuk mengemas kerja pelestarian kebudayaan menjadi mudah, cepat, efisien, dan tepat guna. Jika manusia menggunakan teknologi tepat guna, maka teknologi akan menjadi pendukung. Namun jika melebihi kapasitas, maka akan bisa memperbudak manusia. Awas jangan sampai salah lagi mengartikan bijak berteknologi.

Suatu yang harus dilindungi itu diri kita sendiri. Salah menafsir maka salah mengartikan. Salah mengartikan akan salah pemahaman. Salah memahami akan berimbas dalam kehidupan. Salah menempatkan akan salah dalam menggunakan. Salah menggunakan akan menjadi hantu yang menakutkan dalam kehidupan. Inilah yang menghantui kita selama ini, sehingga memfilter budaya dengan membabi buta, serampangan, dan tanpa pikir panjang. Akhirnya budaya kita mengekang perkembangan kebudayaan. Kalau sudah begini bukan kah kita sendiri yang membunuh budaya itu? 

Sampai disini kita sudah menyadari bahwa kita salah menafsir perkembangan teknologi, lalu menempatkan teknologi sebagai mesin pembunuh kebudayaan, namun sekaligus pemecah masalah kehidupan. Sebuah kontradiksi yang dipaksakan dalam pamikiran. Kita hanya tidak mau disalahkan bahwa kita salah tafsir tentang perkembangan teknologi karena kita berpendidikan. Suatu kekonyolan yang selama ini kita paksakan dan kita muntahkan dalam ruang diskusi. Jika sudah begini, coba kita selami ulang dan tanyakan kepada diri sendiri. Sebenarnya mesin pembunuh itu, kita (sebagai manusia) atau teknologi?

Traktir Mbah Dinan kopi klik di sini
Beli alat musik Kalimantan klik di sini
Hubungi Admin via whatsapp klik di sini.

About the Author

Saya Ferdinan, S.Sn. dipanggil Mbah Dinan. Komposer dan peneliti independen budaya musik Dayak kalimantan Barat. Masih aktif memberi pelatihan seni musik Dayak pada komunitas di Kalimatan Barat.

Posting Komentar

Tinggalkan komentar anda
Cookie Consent
We serve cookies on this site to analyze traffic, remember your preferences, and optimize your experience.
Oops!
It seems there is something wrong with your internet connection. Please connect to the internet and start browsing again.
AdBlock Detected!
We have detected that you are using adblocking plugin in your browser.
The revenue we earn by the advertisements is used to manage this website, we request you to whitelist our website in your adblocking plugin.
Site is Blocked
Sorry! This site is not available in your country.