New Sign Technolgy

New Sign Technolgy

New Sign Technology

Kebanyakan kita terlena dengan perkembangan teknologi digital, lalu hanyut dalam keasikan ketika menggunakannya. Kita tidak pernah mempermasalahkan degradasi nilai sosial yang semakin tidak terpikirkan, masa bodoh dengan nilai budaya yang semakin terkikis, dan tidak pernah perduli kalau kita semakin hari menjadi orang asing dikalangan keluarga, sahabat, dan tetangga kita sendiri.

Globalisasi teknologi pada dasarnya membuka dunia baru seluas-luasnya, dimana dunia baru itu menjadi jalan masuk pemikiran baru yang kadang tidak tepat untuk kita bawa dalam kehidupan dan budaya kita. Masuknya teknologi secara deras dalam suatu budaya cenderung tanpa filter, tanpa batasan nilai dan tanpa penyetaraan terhadap budaya, termasuk juga bergantinya minat masyarakat terhadap hal-hal baru yang dianggap menarik. Padahal sesuatu yang menarik itu belum tentu cocok dalam kehidupan kita. Gambaran terbukanya celah teknologi merujuk pada suatu kegiatan investasi perdagangan minat secara bebas. Konsekuensinya minat masyarakat terhadap hal-hal baru semakin tinggi dan mulai ketergantungan.

Anda mungkin pernah mengalami, buang air besar saja anda bawa HP. Hal ini karena waktu luang ketika anda nongkrong di kamar kecil buang air besar, anda lebih asik dengan media sosial walau hanya scroll hp kesana kemarin dan nonton hal yang sama sekali tidak ada manfaatnya. Mungkin juga disaat yang sama anda selalu bawa hp kekamar kecil karena sakaw menggunakan tiktok.

Mungkin gambaran di atas kebanyakan dianggap sepele dan hiburan semata, tapi ketika anda lihat dalam pergaulan sehari-hari, maka keadaannya semakin parah. Kadang kita ngomong tidak diperdulikan oleh teman ngobrol kita karena dia asik dengan sosial medianya. Dari sini kita mulai sadar, bahwa nilai-nilai menghormati semakin tipis dan tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya. Belum lagi seringnya terdengar sumpah serapah para gamer yang kebanyakan menghiasi warung kopi. Kadang kita geram melihat kelakuannya, namun pada sisi yang lain kita juga ikut cuek sampai menganggap hal itu biasa, karena kita juga terimbas sebagai pengguna teknologi serampangan dan membabi buta.

Lalu bagaimanakah imbas teknologi itu terhadap budaya? Bagi sebagian creator yang kreatif, kebanyakam menggunakan teknologi untuk memudahkan mereka dalam berkembang. Mereka mencari informasi dan mulai memperbaiki karya mereka dan cenderung merujuk pada tatanan kebaruan. Yah, kalau boleh dibilang merujuk pada suatu yang baru dan dibarukan atau dengan istilah kontemporer.

Pada sisi yang lain, kebanyakan pengguna teknologi tersesat dalam rimba digital dan cenderung salah kaprah dalam menafsir perkembangan. Banyak bentuk seni dipaksa untuk dimodernkan sampai menghilangkan ciri khas dari kesenian itu sendiri. Banyak bentuk kesenian daerah yang hanya tinggal nama saja, sementara bentuknya yang baru malah tidak dikenali lagi nilai kedaerahannya. Lalu mereka mendongengkan tentang tradisi. Pertanyaannya, tradisi yang mana?

Hampir saja saya menyangka, bahwa seorang creator adalah robot karya. Ide karyanya hanya berupa program dan tidak lebih dari itu. Yang membiingungkan lagi, mereka memaksa menamkannya dengan modernitas. Suatu kegilaan baru karena tersesat dirimba teknologi, namun merasa nyaman dengan ketersesatannya.

Kebanyakan pengguna teknologi tidak memahami secara mendalam kaidah-kaidah teknologi itu sendiri. Mereka menggunaknnya hanya sebatas bisa dan merasa nyamannya dimana. Karena kenyamanan rasa inilah akhirnya merubah rasa penghormatan, mengganti rasa empati dengan ketidak perdulian, dan meninggalkan esensi lalu beralih kepada keasikan. Apapun yang mereka olah, selalu diarahkan pada keasikan yang absurd dan kebanyakan diberi alasan unik, menarik, dan estetik. Itulah yang kita nikmati dibeberapa sajian sosial media. Itu juga yang kita sadar untuk kita tinggalkan namun tidak pernah bisa. Itu juga yang akan menghancurkan orientasi perkembangan budaya kita. Kita lihat saja dan tunggu kehancurannya. Ingat, kehancuran budaya itu dimulai dari degradasi moral pelakunya. Ingat itu dan tunggu tanggal mainnya.

Mau beli alat musik Kalimantan?
LIHAT ALAT MUSIK DAYAK
LIHAT ALAT MUSIK MELAYU
Hubungi Admin: 0898 8566 886.
Mbah Dinan

Saya Ferdinan, S.Sn. dipanggil Mbah Dinan. Saya komposer dan peneliti independen budaya musik Dayak kalimantan Barat. Bekerja di Taman Budaya Kalbar dan masih aktif memberi pelatihan seni musik pada komunitas dan instansi pemerintah di Kalimatan Barat.

Posting Komentar

Tinggalkan komentar anda

Lebih baru Lebih lama