Seni dalam Retorika Teknologi

Seni dalam Retorika Teknologi

Seni dan Retorika Perkembangan Teknologi
Globalisasi Teknologi pada dasarnya memberi gambaran tentang penyeragaman perkembangan suatu budaya global dalam satu visi yang membuka seluas-luasnya akses tanpa mengenal Batasan territorial. Batasan teritorial itu tidak hanya berupa wilayah, namun juga melanggar Batasan nilai budaya dan perilaku masyarakat. Gambaran gamblang tentang ide perkembangan dan hasil dari perkembangan itu kadang tidak memperdulikan kaidah etika dari suatu masyarakat dan cenderung menapikan segala aturan baku dalam wilayah keagamaan. Tatanan perkembangan ini yang nantinya menjadi konsep dasar agar bisa secara global diterima oleh individu secara luas di seluruh dunia.

Globalisasi Teknologi membuka jalan dan peluang disegala minat dan usaha yang merujuk pada suatu kegiatan eksplorasi dan membuka pasarnya sendiri menjadi perdagangan bebas. Konsekuensinya perdagangan minat perkembangan itu harus menghilangkan hambatan-hambatan walau dalam tatanan moralitas sekalipun. Artinya ada keharusan penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus perkembangan yang sudah dikonsep. Pada satu sisi pasar global dalam perkembangan teknologi menjadi satu kekuatan yang semakin terintegrasi, dan selalu menolak hambatan sekalipun itu akan menafikan nilai-nilai keagamaan dan nilai etika dalam suatu pergaulan. Hal inilah yang nantinya akan berbenturan dengan nilai budaya suatu masyarakat.

Penggumpalan konsep minat dan perkembangan dalam satu visi akan membawa perubahan banyak aspek kehidupan, terutama di kota-kota besar. Perubahan itu semakin Nampak dengan semakin menipisnya nilai empati dan semakin tidak perduli terhadap individu disekelilingnya. Mereka hanya butuh teknologi yang bisa memberikan keasikan dan jawaban kebutuhan, karena konsep minat dalam teknologi merujuk pada pemenuhan kebutuhan yang selalu dipaksa untuk dijawab sampai kepada hal paling kecil dan paling sesederhana sekalipun. Sampai kepada pilihan ketika untuk membeli jarum dan benang saja kita harus membeli online dalam satu daerah. Dari sini kita bisa melihat pilihan instan selalu menawarkan pilihan kepada manusia yang akhirnya merubah minat dalam kehidupannya.

Irianto mengatakan, globalisasi merupakan gambaran tentang penciutan dan penyeragaman dunia. Dengan adanya perkembangan teknologi informasi saat ini telah mengubah kebudayaan sebagian besar masyarakat dunia, baik yang tinggal di perkotaan maupun di pedesaan. Masyarakat di seluruh dunia saat ini telah melakukan transaksi ekonomi dan memperoleh informasi dalam waktu singkat berkat teknologi satelit dan komputer. Kebudayaan dalam era globalisasi tidak sekadar disikapi sebagai keseluruhan pola perilaku, penge-tahuan, dan pola pikir kelompok sosial masyarakat secara mapan. Kebudayaan bukan dipandang sebagai suatu realitas kebendaan yang selalu tetap, tetapi kebudayaan di era globalisasi ekonomi telah membentuk realitas yang selalu diproduksi dan direproduksi secara terus menerus, yang kemudian melahirkan identitas-identitas baru. (Irianto, “Kesenian Daerah dan Globalisasi, Sebuah Konsep Menuju Ketahanan Budaya”. Dipresentasikan pada Saresehan Pengkajian Pemeliharaan dan Pengembangan Kesenian serta Kebudayaan Daerah Provinsi JawaTengah. Diselenggarakan Badan Kesbangpol dan Linmas Prov. Jateng di Kabupaten Kendal dan Batang, tanggal 21 & 30 Juli, 2009, h. 1-10.)

Identitas baru ini sebenarnya berubah karena minat masyarakat. Mereka memandang teknologi lama, bentuk kesenian lama, dan kebanyakan yang lama-lama dipandang tidak bisa lagi memuaskan minat mereka dan akhirnya dianggap tidak berguna. Identitas baru muncul dengan mengacu pada kesenangan semata yang akhirnya merubah wujud orientasi dari yang bernilai secara historis dan kulturistik dianggap kuno dan ketinggalan jaman. Lambat laun segala sesuatu yang berbau lama, termasuk tradisi mulai ditinggalkan dan tergantikan dengan hal baru. Padahal hal suatu yang baru itu belum tentu terpakai dalam waktu lama atau berkesinambungan. Fungsinya hanya sebatas pemuas nafsu saja, namun tetap dipandang efektif dalam waktu sekarang.

Pada era globalisasi teknologi segala sesuatu cenderung harus terbarukan, baik bentuk, ide, konsep penyajiannya, sampai kepada tampilannya. Imbasnya sampai kepada bentuk kesenian yang dulu dianggap sakral, khidmad, dan agung berubah menjadi barang tontonan biasa. Disana sini diadakan pemangkasan, sampai kepada pemangkasan bentuk yang paling esensial dari kesenian itu sendiri. Akhirnya, karena terlalu banyak melakukan perubahan, bentuk asli kian mengabur. Hampir tidak kita kenali dan generasi baru menganggap itulah aslinya, sampai mereka tersesat di rimba kesenian daerahnya sendiri.
Seni dan Retorika Perkembangan Teknologi
Ditengah perkembangan teknologi global, kita dipaksa pemikiran untuk terus maju tanpa memandang hakikat kemajuan. Sampai kepada wilayah yang katanya kontemporer walau kita sendiri kurang atau bahkan tidak memahami ranah kontemporer itu sendiri. Hal ini karena dalam perkembangan teknologi bentuk yang ada bukanlah suatu wujud yang sudah ada sejak semula dan tetap bertahan dalam suatu esensi yang abadi. Bentuk kesenian itu adalah bentuk kesenian semu yang lahir dari angan-angan, bukan dari konsep kritis seorang seniman. Lebih parahnya banyak juga kesenian yang lahir tanpa konsep dan dipaksakan untuk diakui berasal dari suatu budaya. Akhirnya apa yang disuguhkan itu hanya berupa pseudo art (seni semu, cenderung replika atau secara kasarnya palsu) namun dipaksakan menjadi realita. Itulah panggung perkembangan teknologi global yang kapan saja bisa menyesatkan para pemikir cerdas sekalipun.

Bentuk baru kesenian ditengah perkembangan teknologi global terdiri dari berbagai lapis identitas. Lapis-lapis identitas itu tergantung pada peran- peran yang dijalankan, keadaan objektif yang dihadapi, serta ditentukan pula dari cara menyikapi keadaan dan peran tersebut. Identitas baru dalam teknologi global bukanlah suatu yang selesai dan final, tetapi merupakan suatu kondisi yang selalu disesuaikan kembali, sifat yang selalu diperbarui, dan keadaan yang dinegosiasi terus- menerus, sehingga wujudnya akan selalu tergantung dari proses yang membentuknya.
Identitas kesenian saat ini semakin pudar dengan kepentingan-kepentingan yang justru lebih mengemuka. Imbasnya mencakar kedalam konsep kehidupan masyarakat Indonesia yang awalnya tenang-tenang saja, kini menjadi hiruk pikuk dengan demam tren temporer yang bermunculan. Konsep kepentingan selalu saja mengintai dibalik apa yang lagi ramai diberitakan dan diangap viral. Akhirnya segala sesuatu dalam kesenian tradisi dipaksa untuk disesuaikan dan tumbuh beriringan dengan perkembangan konsumsi budaya. Pertumbuhan itu membentuk transformasi kapitalisme konsumsi yang ditandai dengan menjamurnya pusat perbelanjaan seperti market place, industri waktu luang, investasi hobi, industri nasihat, industri gosip, industri orang jelek, sampai kepada industri sumpah serapah. Semua reproduksi dan transfer gaya hidup dijejalkan melalui iklan dan media, walau kenyataannya terlalu berlebihan. Kadang kitapun tergoda untuk membeli walau sebenarnya kita tau itu sama sekali tidak berguna dalam kehidupan kita, itulah kenyataannya.
Seni dan Retorika Perkembangan Teknologi
Salah satu kekonyolan bagi pelaku seni yang menceburkan diri dalam perkembangan teknologi global adanya anggapan, segala sesuatu sekarang harus terbarukan secara menyeluruh. Misalnya mengganti alat musik tradisi dengan keyboard demi alasan memangkas jumlah pemain dan memudahkan dalam pementasan. Padahal dalam kesenian tradisi ada nada-nada yang tidak dapat dijangkau oleh alat musik secanggih apapun. Semua penampilan dan rasa terbarukan tapi terus saja dipaksakan untuk ditampilkan, akhirnya masyarakat yang tidak sadar dengan degradasi nilai seni mulai terbiasa dan menganggap itu biasa. Bahayanya sekarang kesenian semacam itu dibilang barang bagus dan harga murah. Apakah seperti itu kesenian kita harus dijadikan, murah dan dipaksakan bagus?

Perkembangan teknologi itu suatu keniscayaan yang tidak bisa ditolak atau dihindari. Hanya saja kita perlu memperkuat jati diri kita sendiri dan memahami arah perkembangan itu, karena kita sebagai pelaku kesenian dalam perkembangan teknologi harus bisa memanfaatkannya dengan bijak untuk perkembangan kesenian kita sendiri. Gunakan dan maksimalkan teknologi itu untuk mengangkat nilai kebagusan (berhubungan dengan nilai estetik) bukan mengaburkan atau menghapus nilai budaya yang terkandung didalamnya. Orang cerdas dalam menghadapi perkembangan global teknologi akan memanfaatkan teknologi itu untuk membuat suatu yang baru tetapi tidak merubah nilai atau esensi dari kesenian itu sendiri. Jadi bijaklah dalam menyikapinya.

Mau beli alat musik Kalimantan?
LIHAT ALAT MUSIK DAYAK
LIHAT ALAT MUSIK MELAYU
Hubungi Admin: 0898 8566 886.
Mbah Dinan

Saya Ferdinan, S.Sn. dipanggil Mbah Dinan. Saya komposer dan peneliti independen budaya musik Dayak kalimantan Barat. Bekerja di Taman Budaya Kalbar dan masih aktif memberi pelatihan seni musik pada komunitas dan instansi pemerintah di Kalimatan Barat.

Posting Komentar

Tinggalkan komentar anda

Lebih baru Lebih lama