Topeng Imajinatif Musik Tradisi Skip to main content

Topeng Imajinatif Musik Tradisi

Topeng Imajinatif Musik Tradisi
sumber foto: https://id.theasianparent.com/topeng-bali

Sebuah tanggapan terhadap diskusi yang berjudul “GAMELAN BUKAN MUSIK” dalam program Suluh Tulis Prodi Pendidikan Seni dan Budaya Keagamaan Hindu STAHN Mpu Kuturan Singaraja, Bali. Diskusi berlangsung pada 18 Januari 2024 dengan Gigih Alfajar Novra Wulanda etnomusikolog Kalimantan Barat dan Kadek Anggara Rismandika, seniman sekaligus dosen STAHN Mpu Kuturan sebagai narasumber. Sedangkan Putu Ardiyasa, yang juga seorang dosen di STAHN Mpu Kuturan cum dalang, didaulat sebagai pemantik. 

Tulisan mengenai duskusi budaya tersebut tayang pada media TATKALA dengan judul “Forum Suluh Tulis: Dari Gamelan, Musik, sampai Kebudayaan yang Luntur” pada 20 Januari 2024. Link tulisan dapat diakses di sini.

Baiklah kita mulai saja tanggapannya. Baca santai dan jangan lupa ngopi. DALAM PERSEPSI ABSURD DAN HARAP DINALAR SECARA SEDERHANA SAJA.

Dulu saya pernah berdialog dengan I Nyoman Cau, seorang dosen Etnomusikologi ISI Yogyakarta. Maaf saya tidak suka menggunakan kata “tukar pikiran” karena takut aja ketuker otak sekalian nantinya”, Pikiran kok dituker-tuker. ok lanjut. Pembicaraan saya seputar Gamelan Jawa dan Bali. Pertanyaan ini mungkin banyak ditanyakan oleh akademisi ketika melihat dua Gamelan dengan gaya dengan latar belakang dialektika budaya berbeda. 

Perbedaan sangat mencolok telihat dari segi penyajian, mulai dari ritme, teknik permainan, sampai kepada persepsi tentang musik oleh pemainnya , bahkan masyarakat pemiliknya. Sebuah fakta musikal yang sangat komplek untuk di fahami ketika kita mulai membandingkan kedua Gamelan Tersebut. Apalagi ketika kita mengadakan komparasi dengan musik barat.

Disela pembicaraan terlintas pemikiran bahwa Gamelan itu tidak tertata seperti musik barat pada umumnya. Kebanyakan mahasiswa menganggap Gamelan itu mempunyai nada yang fals dan dengan tatanan permainan yang berlawan dengan musik barat pada umumnya. 

Persepsi ini timbul karena latar belakang saya sebagai orang Kalimantan Barat yang sebelumnya berdomisili di Kalimantan Selatan, tentunya hanya akrab kedengan budaya musik setempat. Hal serupa timbul juga dengan beberapa kawan-kawan dari sulawesi, sumatera, dan beberapa kawan-kawan dari indonesia timur. Rata-rata penyajian dan gaya musik nusantara diluar Jawa dan Bali, kebanyakan merujuk pada kaidah musik barat. Walau ada hal kerancuan juga ketika kita berbicara masalah tuning nada yang dipakai pada keseluruhan musik Nusantara.

Awalnya saya memandang bahwa musik Jawa dan Bali itu suatu hal yang tidak lazim, layaknya seperti topeng aneh dalam gaya dan pertunjukannya sendiri. Ketika kita mulai “membandingkan” dengan musik lain, atau mengkaji menjadi sebuah objek komparasi. Saya tidak menyanggah keanehan Gamealan dengan segala fenomena artistik harmoninya. Saja juga sepakat saja kalau Gamelan mempunyai keindahan susunan mandiri tanpa terkait dengan kaidah barat. Namun keanehan Bunyi yang tercipta dari harmoni seluruh alat ketika dimainkan juga menggelitik rasa siapapun yang mendengarkannya secara medalam dengan penghayatan. 

Awalnya Gamelan dianggap musik rendahan ketika dibandingkan dengan musik barat oleh masyarakat barat yang hanya mengenali kemegahan musik barat pada budaya meraka. Musik nusantara bukan saja dianggap rendahan, bahkan dianggap primitif sebagai mana orang memandang kita orang Indonesia pada waktu zaman Penjajahan. Mereka cenderung merendahkan, dan lebih memilih meninggalkan pertunjukan musik tradisi Indeonesia. 

Kenyataan ini mulai dirasakan banyak seniman tradisi masa penjajahan tersebut. Berbagai himpitan juga dirasakan langsung oleh seniman, bahwa beberapa musik tidak boleh dimainkan karena dianggap sebagai tempat berkumpul orang dan dapat saja perkumpulan itu membicarakan suatu hal merugikan bagi pendudukan kolonial belanda pada saat itu. Artinya musik dianggap sebagai suatu yang membahayakan bagi penjajah, bukan saja dianggap musik rendahan. 

Akhirnya beberapa seniman musik tradisi di daerah Jawa dan Bali memberi sentuhan perubahan gaya dan penyajiannya, terutama pada pola ritme yang sebagaian mengacu pada kaidah barat. Usaha ini membuahkan hasil, seperti musik Tradisi Bali yang lebih dinamis dan tegas dalam penyajiannya. Untuk mensiasati ciri musik Bali itu sendiri, akhirnya beberapa seniman menciptakan dinamika ekstrem (keras lembut bunyi) yang membuat musik Bali lebih hidup dengan gayanya yang baru. 

Saya menyebutnya ini sebagai teknik luncuran, dimana musik dimainkan keras dan cepat lalu berubah pada permainan lembut dengan tempo yang sama dalam waktu seketika. Teknik ini memang sudah ada dimusik barat, namun perubahan dilakukan secara bertahap bagian perbagian dari permainan masing-masing kelompok instrumen dalam musik barat (dengarkan musik jaman klasik). Tidak seperti musik Bali yang mempunyai perubahan dinamik mendadak dan cenderung mengejutkan. 

Pada Diskusi yang berlangsung santai, dadakan, tapi asik itu kami mulai sedikit memahami tentang gaya Gamelan Bali. Sementara Gamelan Jawa kami fahami sebagai suatu yang mempertahankan kaidah budaya setempat dengan latar belakang pengaruh keraton yang masih kental pada masa penjajahan belanda. Intelektual Jawa sendiri pada waktu itu menganggap bahwa musik meraka bernilai luhur dan agung berciri budaya setempat. 

Kenapa musik Jawa cenderung tetap karena rasa kesakralan yang masih melekat pada masyarakat Jawa. Sedangkan musik Bali lebih mengacu pada keagungan religius dalam musik dan fleksibel dalam penggarapan. Fahami ya, beda rasa keagungan kesakralan dengan rasa keagungan religius.

Dialog terus berlanjut. Pak Nyoman Cau menerangkan bahwa dalam musik Gamelan, kita tidak bisa hanya memandang komposisi, namun harus dipandang adanya pengaruh atau latar belakang budaya masyarakat, Karena bagaimanapun musik lahir dalam sebuah masyarakat akan membawa ciri dari budaya masyarakat itu sendiri. Artinya musik Nusantara bukan hanya mempunyai susunan dan rasa dari penyajian yang berbeda dengan musik barat, namun lebih dari itu, dia mengandung pesan kehidupan dari budaya masyarakat sebagai subjek musik. Maka dari itu, musik Nusantara adalah sebuah gambaran dari budaya dimana musik itu hidup dan berkembang. Hal inilah yang berkaitan erat dengan rasa dan persepsi masyarakat terhadap musik yang mereka miliki. 

Dikotomi musik tradisi memuat dua hal, yaitu susunan musik dan ciri yang ada pada musik tersebut, dan dialektika budaya dalam musik itu sendiri. Berbeda dengan musik barat yang umumnya berkembang dari musik gereja, dia hanya mengacu pada sistem terkecil untuk membuat suatu harmoni keindahan musiknya (silahkan baca buku Rahayu Supanggah berjudul Nuclear Theme). Musik nusantara lebih berbicara mengenai lingkup budaya dengan rasa khidmat kesakralan, rasa keagungan religius, dan dianggap penjelmaan dari rasa kehidupan manusianya.

Ketika kita mengkaji lebih dalam musik nusantara seperti Gamelan Jawa dan Bali, kita tidak menemukan kelaziman struktur ketika berorientasi kepada musik barat. Jika ada hal itu hanya dicocok-cocokkan saja, dan sedikit memaksa (menurut saya pribadi). Namun bagaimanapun ketika seorang peneliti musik nusantara harus presisi dan presentatif dalam melihat musik tradisi Indonesia, agar tidak terjadi kekeliruan persepsi yang jauh melenceng dari persepsi umum masyarakat poemiliknya. 

Jika kita menilai dari kacamata barat, maka hal itu akan kabur dan menjadi topeng imajinatif dari persepsi banyak peneliti sekarang ini. Mereka hanya melihat kulit, tidak pernah melihat isi (nilai budaya) yang ada dalam musik tersebut. Kebanyak kita malah merasa asing setelah membaca beberapa tulisan tentang musik tradisi kita sendiri, atau bingung karena tidak menemukan kaidah yang jelas yang berhubungan dangan lingkup budayanya. 

Topeng Imajinatif itu adalah budaya luar secara umum yang melingkupi suatu musik tradisi. Biasanya fenomena budaya yang melekat temporal dan bukan budaya sesungguhnya. Saya lebih suka menyebutkan sebagai topeng imajinatif, karena kebanyakan dipandang sebagai budaya semu yang melekat dalam suatu produk budaya, termausk kesenian.

Jika Gamelan tidak dianggap musik itu sah-sah saja, karena pada sisi lain Gamelan lebih berbicara sebagai identitas budaya dan disampaikan melalui bunyi, tapi kenyataannya pernyataan ini akan membuat kerancuan pandangan dimasyarakat awam. Sebuah musik itu mutlak bunyi yang terstruktur menurut kaidah tersendiri. Acuan musik barat itu pada pola ritme dan model melodi yang teratur (akhirnya disebut gaya), disampiang semua partikel musik yang akhirnya menjadi sebuah musik dan disepakati sebagai musik. Sedangkan musik Nusantara itu lahir dari budaya yang melekat pada alam pikir pelakunya, walau akan kembali kepada kaidah musik secara umum juga, namun ciri khasnya adalah pada nilai budaya yang melekat pada musik itu sendiri. 

Saya tidak mengatakan bahwa musik Nusantara itu melawan kaidah musik barat secara umum, hanya musik nusantara lebih menitik beratkan pada budaya yang melingkupinya. Oh ya, jangan pernah khawatir kalau musik kita mengalami degradasi perkembangan, karena musik itu tidak akan berubah dan selalu mencari jati dirinya sendiri. Fenomenanya sekarang bahwa musik kita tidak digiatkan untuk dimainkan, dikenalkan secara mendalam, dan diajarkan kepada generasi sekarang dengan berbagai alasan. Itu saja, walau sebenarnya berbagai alasan itu sudah usang dan terlalu monoton untuk kita sepakati.

Sekali lagi, jika ada pendapat bahwa gamelan itu bukan musik, sebenarnya yang kita bicarakan itu adalah topeng imajinatif musik itu sendiri. Tinggal bagaimana cara merubah persepsi yang liar sehingga jinak dan terbaca enak oleh masyarakat. Jangan membuat kerancuan baru dalam sebuah “judul”, terutama dalam dialog publik akademis yang akan menimbulkan berbagai perdebatan.  Usung saja persepsi nyeleneh atau konyol sekalipun, namun dalam koridor kejelasan konsep dan enak untuk dinalar dalam diskusi. Artinya ketika dikatakan “Gamelan Bukan Musik” dan ternyata bahasannya adalah lingkup terdalam dari latar belakang budayanya, artinya bahasan berkutat pada retorika dan dialektika budaya juga bukan? Lalu bagaimana kalau ditambah saja judulnya menjadi, “GAMELAN BUKAN SEKEDAR MUSIK”. Agar jangan sampai kita terjebak dalam jendela dialog TOPENG IMAJINATIF MUSIK TRADISI.

Ketika kita bicarakan topeng imajinatif musik tradisi, kita seakan sudah tau dan terasa menjangkau isi sesungguhnya dari musik tradisi itu sendiri. Padahal kita hanya membicarakan sisi lain dengan pandangan nalar yang lain juga terhadap musik tradisi. Kebanyak kita sebagai pemerhati atau peneliti sekalipun merasa sudah pas-pas saja, padahal jauh dari harapan nurani rakyat pemiliknya dalam memandang musik mereka sesungguhnya.

Hati-hati terjebak dalam hal ini, sekali anda tersesat maka anda akan merasa nyaman dalam kebenaran semu, karena yang kamu bicarakan adalah wajah lain dari musik tradisi itu sendiri, bukan wajah musik tradisi sesungguhnya.

Hati-hati ketika anda mempersepsi musik tradisi tanpa menggali budaya sesungguhnya. Sekali anda tersesat maka akan susah mencari jalan keluarnya. Karena ini pernah saya alami. Sekarang saya juga masih berada dalam kesesatan itu, namun saya menemukan jalan keluar untuk kompromi dari premis liar yang selama ini absurd dipemikiran umumnya. Ketika saya menuliskan ini, sebaiknya anda jangan percaya sepenuhnya. Linat musik tradisi anda sendiri. Ingat, jangan memakai topeng persepsi absurd ketika anda ingin berdialog dengan bunyi budaya yang ada dimana saja.


Mau beli alat musik Kalimantan?
LIHAT ALAT MUSIK DAYAK
Hubungi Admin: 0811 5686 886.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar