Mengenal Danau Sentarum Lebih Dekat 2
X9xcVhvrbaHv8NGGDcJ82aFgqHYD11qjhxNfbypG
Bookmark

Mengenal Danau Sentarum Lebih Dekat 2

Sebelumnya saya sudah posting Mengenal Danau Sentarum Lebih Dekat bagian satu. Sekarang saya posting bagian kedua, biar pengenalan anda bisa lebih lengkap mengenai Danau Sentarum, di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Ok juragan, silahkan di simak tulisannya.
Rujukan rimbakita.com, sumber tulisan utamanya ada pada link berikut klik disini

1. Ekosistem

Beberapa tipe ekosistem yang terdapat di kawasan taman nasional Danau Sentarum antara lain hutan tanah kering dan hutan rawa. Kawasan hutan lahan kering terdapat di perbukitan dengan ketinggian 140 sampai 750 mdpl dan di dataran tinggi yang bergelombang, antara lain hutan kerangas, hutan sekunder dan hutan perbukitan. Sedangkan hutan rawa terbagi menjadi empat jenis hutan, yaitu dwarf swamp forest, stunted swamp forest, hutan rawa tinggi, dan hutan riparian.

Mengenal Danau Sentarum Lebih Dekat

2. Jenis Habitat

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia atau LIPI mengkategorikan tipe habitat di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum berdasarkan pengetahuan masyarakat sekitar, yaitu:

a. Hutan Rapak Gelgah / Hutan Rawa Kerdil

Hutan ini juga disebut dwarf swamp forest, karakteristik vegetasinya terdiri dari pohon setinggi 5 sampai 8 meter dan tergenang 8 hingga 11 bulam dalam setahun. Beberapa jenis tumbuhan yang hidup di kawasan ini adalah  Putat (Baringtonia acutangula), dan Kebesi (Memecylon edule), Mentagis (Ixora mentangis), Kayu Tahun (Carallia bracteata).

b. Hutan Gelagah / Hutan Rawa Terhalang

Hutan ini juga dinamakan stunded swamp forest yang ditumbuhi tanaman kerdil setinggi 10 sampai 15 meter. Kawasan ini terendam air setinggi 3 sampai 4 meter selama 4 hingga 7 bulan sehingga pepohonan yang nampak hanya tajuknya saja. Vegetasi yang mendominasi adalah Kamsia yang ditumbuhi epifit, Menungau (Vatica menungau), Kenarin (Diospyros coriacea), dan Menungau (Vatica menungau).

c. Hutan Pepah / Hutan Rawa Tegakan / Hutan Rawa Tinggi

Kawsan ini ditumbuhi vegetasi yang agak tinggi, antara 25 hingga 35 meter. Saat terjadi luapan air atau banjir, maka akan terjadi genangan setinggi 1 sampai 3 meter selama 2 hingga 4 bulan. Tumbuhan yang ada di hutan ini adalah pohon emang, melaban dan kelansau.

d. Hutan Tepian / Hutan Riparian

Tipe hutan ini berada di pinggir sungai besar. Karena letaknya tersebut, maka genangan air dapat mencapai 6 bulan. Vegetasi yang tumbuh di kawasan ini adalah rengas merah (Gluta renghas) dan tembesu (Fagrarea fagrans).

e. Hutan Rawa Gambut

Rawa gambut adalah jenis ekosistem yang terdapat didaerah agak tinggi dan mengalami genangan 1 hingga 4 bulan setiap tahun, namun genangannya cukup dangkal yaitu kurang dari 1,5 meter. Jenis tumbuhan di wilayah ini adalah Kapur (Dryobalanops abnormis), Bintangur (Callophylum spp.), dan Terindak (Shorea seminis).

e. Hutan Dataran Rendah Perbukitan

Sebagian jenis tumbuhan yang ada di kawasan ini berasal dari keluarga Dipterocarpaceae, seperti tengkawang rambai (Shorea smithiana), resak (Vatica micrantha), keruing (Dipterocarpus retusus) dan tempurau (Dipterocarpus spp).

f. Hutan Kerangas / Heath Forest

Hutan kerangas adalah hutan yang berada pada lahan ekstrim atau rawan, serta sangat peka terhadap gangguan seperti kebakaran hutan. Tumbuhan di hutan ini bergantung pada humus di lantai hutan yang sangat tipis, sehingga tumbuh kerdil dan batang kurus.

3. Flora & Fauna Taman Nasional Danau Sentarum

Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum memiliki kekayaan flora dan fauna yang berlimpah. Berada di wilayah danau membuatnya keanekaragaman spesiesnya semakin banyak. Mulai dari jenis yang familiar sampai terancam punah dapat ditemukan di kawasan ini.

Mengenal Danau Sentarum Lebih Dekat

a. Flora

Diketahui terdapat sekitar 675 spesies flora dan termasuk ke dalam 97 famili yang tumbuh di kawasan taman nasional ini. Flora tersebut beragam, mulai dari spesies langka hingga spesies yang dilindungi. Jenis flora di kawasan ini dapat dibedakan berdasarkan tipe-tipe hutan yang ada.

Flora yang mendominasi Hutan Rawa Putat adalah jenis perdu dan pohon kerdil yang selalu digenangi air. Ketinggian pohon berkisar antara 5 sampai 8 meter. Beberapa jenis flora yang ada disini yaitu belantik (Baccaurea bracteata), melayak (Croton sp), putat (Barringtonia acutangula), pungu (Creteva religiosa), tengelam (Eugenia spp.), tahun (Garcinia sp), dan mentangis (Randia sp).

Hutan Rawa Kawi adalah tipe hutan terbuka dengan ketinggian pohon antara 6 sampai 25 meter. Jenis flora yang biasa ditemukan antara lain pekeras (Homalium caryophyllaceum), musi (Thoracostachyum bancanum), mentangur (Calophyllum sp), lebang (Coccoceras sumatrana), timba tawang (Crudia teysmannia), kenarin (Diospyros coriaceae), sikup (Garcinia celebica), kemelat (Mallotus echinatus), lilin (Urophyllum macrophyllum), dan kawi (Shorea balangeran).

Hutan Rawa Rengas juga termasuk hutan terbuka yang memiliki kekayaan flora berlimpah. Beberapa diantaranya adalah rengas merah (Gluta renghas), engkunik (Antidesma stipulare), cempedak (Artocarpus teysmannii), adau (Tristania sp.), kertik (Homalium sp.), belantik (Baccaurea bracteata), kelusuk bujang (Pternandra galeata), menungau (Vatica sp), dan musi (Thoracostachyum bancanum).

Hutan Rawa Tempurau berada di kawasan yang cukup tinggi di sekitar Sungai Kapuas dan menjadi ladang penduduk sekitar. Pepohonan di hutan ini rata-rata memiliki tinggi sekitar 22 meter. Jenis yang umum dijumpai adalah puduk (Artocarpus sp.), purik rawa (Mitragyna speciosa.), nipis kulit (Nephelium sp.), dadap timbung (Kayea sp.), medang rawa (Litsea sp.), banyur hutan dan (Pterospermum sp.).

Hutan Rawa Gambut Kelansau-Kerintak berada di kaki bukit dengan ketinggian pohon rata-rata 23 meter. Pohon kalansau (Dryobalanops abnormis) dan kerintak (Shorea seminis) bahkan mencapai 50 meter. Jenis seperti tumbuhan bawah, liana, epifit, dan lumut juga banyak dijumpai di kawasan ini.

Beberapa jenis lain yang sering dijumpai di hutan TN Danau Sentarum yaitu mentangur batu (Calophyllum sclerophyllum), empaik (Crudia sp.), kulit lawang (Cinnamomum sp.), juing rimba (Dillenia sp.), malam (Diospyros sp), , manyam rimba (Galaeria filiformis), sempetir (Kingiodendron sp.), sengkayang (Sapium discolor.), dan jenis jambu-jambuan seperti tengelam.

Hutan Kerangas merupakan area yang tidak pernah tergenang air serta berada di atas lapisan pasir berlempung. Tinggi rata-rata pohon di area ini sekitar 28 meter dan yang paling tinggi sekitar 37 meter. Beberapa jenis flora yang hidup antara lain enkabut (Lycopodium cernuum) serta kantong semar seperti entuyuk (Nepenthes ampularia) dan samong kereh (N. mirabilis).

Adapun jenis yang mendominasi yaitu bunan kelansau bukit (Dryobalanops sp.), (Calophyllum macrocarpa), menggeris (Koompassia malaccensis), gurak (Cheilosa montana), pangerawan buaya (S. uliginosa), masang (Shorea laevis),  malam (Diospyros sp), kerintak (S. seminis),  kertik bukit (Homalium sp.), balik (S. pauciflora), dan resak padi (Vatica cinerea).

Uniknya, di Danau Sentarum ditemukan jenis tumbuhan yang sama dengan tumbuhan endemik yang ada di Sungai Amazon. Spesies tersebut adalah pohon pungguk (Crateva religiosa).

b. Fauna

Ada banyak sekali jenis fauna yang hidup di kawasan taman nasional ini. Mulai dari jenis ikan dan reptil, mamalia, sampai jenis burung. Sebagian diantaranya adalah spesies yang liar, endemik, hingga kategori langka dan terancam punah.

Jenis ikan yang dapat ditemui di taman nasional ini ada dua macam, yaitu yang bisa dikonsumsi dan ikan air tawar. Tercatat ada 265 spesies ikan air tawar yang telah diidentifikasi, seperti ikan tapah (Wallago leeri) dan ikan linut (Sundasalax cf. mixrops).

Sementara beberapa jenis ikan yang dapat dikonsumsi antara lain jelawat, lais, belida, ikan toman, dan ikan patin. Ada juga ikan hias seperti seperti ikan siluk merah super yang biasa disebut sebagai ikan arwana super merah (Scleropages formosus) yang merupakan jenis terancam punah dan berhabitat di kawasan taman nasional ini.

Ikan hias jenis lain yang juga dapat ditemukan di sini yaitu ketutung (Balantiocheilos melanopterus), seluang hantu (Epalzoerhynchos kalopterus), engkadik (Botia hymenophysa), ringau (Datminodes microlepis)dan ikan ulang uli (Botia macracantho).

Tercatat ada 147 spesies mamalia hidup di kawasan ini dan sebagian diantaranya adalah jenis endemik sampai yang hampir punah, seperti kepuh (Presbytis melalaphos cruniger), ungko tangan hitam (Hyobates agilis), kelempiau kalimantan (Hylobates muelleri), bekantan (Nasalis larvatus), orang utan kalimantan (Pongo pygmaeus), dan macan dahan (Neofelis nebulosa).

Adapun jenis burung yang dapat dijumpai di kawasan taman nasional sekitar 310 spesies yang beberapa diantaranya adalah spesies langka dan dilindungi secara internasional.

Beberapa di antara spesies burung tersebut adalah bangau tuntong (Leptoptilus avanicus), bangau hutan rawa (Ciconia stormi), karau paruh merah (Ciconia stormi), ruwai (Argusianus argus), beluk ketupa (Ketupa ketupa), dan 8 jenis Rangkong (Bucerotidae).

Sedangkan jenis reptil yang terdapat di kawasan Danau Sentarum ada sekitar 31 kelompok. Beberapa diantaranya adalah spesies yang dilindungi, seperti buaya muara (Crocodylus porosus), buaya sinyulong (Tomistoma schlegelli), jenis ular, biawak, dan labi-labi.

Bahkan ada jenis buaya yang sudah dinyatakan punah sejak 150 tahun lalu, tetapi diperkirakan masih hidup di kawasan taman nasional ini, yaitu buaya rabin atau buaya katak (Crocodylus raninus).

4. Kegiatan dan Destinasi Wisata

Ada banyak sekali kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan Taman Nasional Danau Sentarum. Mulai dari sekadar mengamati keindahan flora dan fauna, sampai mengunjungi berbagai titik wisata yang menjanjikan panorama menakjubkan.

Mengenal Danau Sentarum Lebih Dekat

a. Pesona Danau Sentarum

Sesuai dengan nama taman nasional ini, Danau Sentarum menjadi ikon yang begitu menarik. Air danau yang berada di lahan basah dan hutan tropis ini bewarna hitam kemerahan karena mengandung zat tannin yang berasal dari hutan gambut di sekitarnya.

Kedalaman Danau Sentarum ketika pasang mencapai 6 sampai 15 meter. Airnya berwarna coklat kemerahan akibat bahan asam tannin dari pohon dan daun yang membusuk di dalam air. Sedangkan ketika surut, danau ini hanya menyisakan beberapa titik air dan menjadi sumber kehidupan bagi satwa yang hidup di balik semak belukar.

b. Laboratorium di Bukit Tekenang

Lokasi ini menjadi surga bagi para pengunjung yang memiliki ketertarikan untuk mengenal lebih jauh tentang TNDS. Pengunjung dapat melakukan penelitian terhadap berbagai kekayaan alam di taman nasional ini.

c. Bukit Lanjak dan Nanga Keneleng

Taman nasional ini memang menjadi surga bagi berbagai jenis satwa. Salah satunya adalah beragam jenis burung yang dapat dijumpai di kawasan ini.

Bagi para pengunjung yang memiliki minat besar terhadap burung, Bukit Lanjak dan Nanga Keneleng menjadi tujuan wisata yang tepat. Kedua tempat tersebut memiliki spot terbaik untuk mengamati pesona berbagai jenis burung di Danau Sentarum.

5. Masyarakat Danau Sentarum

Penduduk yang tinggal di sekitar kawasan Taman Nasional Danau Sentarum sebagian besar adalah masyarakat Melayu dan Dayak. Kedua etnis tersebut hidup rukun dan saling menjaga kelestarian taman nasional.

a. Masyarakat Melayu

Menurut perkiraan, sebelum abad ke-18 terdapat lebih dari 45 dusun permanen dan 10 dusun musiman di sekitar area taman nasional. Sedangkan menurut sejarah kerajaan, kawasan ini mencakup setidaknya 5 kerajaan.

Suku Malayu yang ada di kawasan ini dapat dibedakan berdasarkan rumah tinggalnya, yakni melayu dengan rumah adat lanting (rumah terapung), rumah jangkung (tiang tongkat rumah tinggi), serta rumah perahu (motor bandung atau kelotok).

Mayoritas penduduk Melayu bermata pencaharian sebagai nelayan yang masih menggunakan alat tangkap tradisional, seperti jala, pukat, sentaban atau jebakan ikan, budidaya ikan karamba dan mengumpulkan ikan-ikan hias di kawasan Danau. Menurut perkitaan hasil panen ikan di kawasan ini mencapai 5 sampai 6 milyar per tahun.

Selain nelayan, adapula yang berprofesi sebagai peternak lebah madu liar (Apis dorsata) dan telah dilakukan turun-temurun selama ratusan tahun. Setiap tahun ternak lebah hutan ini menghasilkan madu 10 hingga 20 ton atau senilai 250 sampai 500 juta.

Budidaya lebah hutan ini cukup unik karena pengambulan madu dilakukan dengan cara tradisional, yaitu tikung (sarang buatan), lalau (lebah yang bersarang di kayu besar), serta rapak (lebah yang bersarang di sembarang tempat). Madu dari lebah Danau Sentarum telah mendapatkan sertifikat BIOCERT dan diakui dunia internasional.

b. Masyarakat Dayak

Selain masyarakat Melayu, di daerah perbatasan TNDS juga didiami oleh penduduk dari suku Dayak Iban, Kantuk dan Embaloh. Sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani ladang, berburu, mengelola perkebunan karet dan petani buah.

Sedangkan penduduk yang tinggil di dekat hulu sungai atau danau biasanya bekerja sebagai petani ladang, penangkap ikan dan berburu labi-labi. Masyarakat Dayak tinggal di rumah betang atau rumah panjang dan sebagian kecil membangun rumah kecil secara terpisah.

6. Tantangan TN Danau Sentarum

Ekosistem yang ada di Taman Nasional Danau Sentarum tidak luput dari ancaman dan permasalahan, seperti perubahan iklim yang menyebabkan pergesar musim kemarau lebih lama, penurunan kualitas lingkungan, penbangan liar, penurunan populasi ikan akibat polusi air, ketinggian air tidak menentu, kebakaran hutan dan lahan, hilangnya keanekaragaman hayati, perkemban ekowisata, hingga konflik vertikal dan horizontal.

Upaya pebaikan dan pelestarian melalui kerjasama berbagai pihak harus terus dilakukan agar seluruh komponen hayati yang ada di taman nasional ini tetap lestari.


Mau beli alat musik Kalimantan?

LIHAT ALAT MUSIK DAYAK
LIHAT ALAT MUSIK MELAYU
Hubungi Admin: 08115686886.
Posting Komentar

Posting Komentar

Tinggalkan komentar anda