Tradisi yang Kehilangan Tubuh
![]() |
| PUJI RAHAYU, Perjalanan Menuju Cahaya Mixed Media on Canvas, 150cm x 120cm, 2021 |
TRADISI YANG KEHILANGAN TUBUH
Kesesatan Tafsir dalam Seni Rupa Kalimantan Kontemporer
Tradisi merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat karena menjadi media pewarisan nilai, identitas, dan cara pandang terhadap kehidupan. Dalam konteks seni rupa Kalimantan, tradisi tidak hanya hadir sebagai peninggalan budaya, tetapi juga menjadi sumber inspirasi yang terus diolah oleh para seniman. Motif, simbol, teknik, hingga nilai-nilai filosofis yang lahir dari berbagai budaya lokal menjadi fondasi yang membentuk karakter seni rupa. Namun, memasuki era modernitas, tradisi tidak lagi berada dalam ruang yang tetap. Perkembangan teknologi, globalisasi, industri kreatif, dan perubahan selera masyarakat telah menempatkan tradisi dalam posisi yang baru: bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai medium ekspresi, komoditas ekonomi, dan identitas yang terus dinegosiasikan.
Dalam dunia seni rupa Kalimantan saat ini, konflik antara tradisi dan modernitas terlihat melalui cara seniman memaknai warisan budaya. Sebagian seniman memilih mempertahankan teknik dan nilai-nilai tradisional sebagai bentuk pelestarian identitas budaya. Di sisi lain, banyak seniman kontemporer justru mendekonstruksi simbol-simbol tradisi dengan pendekatan yang lebih eksperimental melalui instalasi, seni media baru, seni performans, hingga karya digital. Tradisi tidak lagi dipandang sebagai aturan yang harus dipatuhi, melainkan sebagai bahasa visual yang dapat ditafsirkan ulang sesuai konteks sosial masa kini. Di sinilah muncul perdebatan, apakah perubahan tersebut merupakan bentuk bagian dari proses pelestarian yang kreatif atau justru mengaburkan makna tradisi itu sendiri?
Di tengah euforia seni rupa kontemporer Kalimantan, tradisi menjadi salah satu kata yang paling sering diucapkan sekaligus paling sering disalahpahami. Hampir setiap pameran menghadirkan narasi tentang "kearifan lokal", "identitas Nusantara", atau "warisan budaya". Motif Dayak, tenun, ukiran, mantra, hingga simbol-simbol ritual dipindahkan ke kanvas, instalasi, video art, bahkan karya berbasis kecerdasan buatan. Tradisi seolah hadir di mana-mana. Namun, pertanyaan yang lebih penting justru jarang diajukan: apakah yang dihadirkan benar-benar tradisi, atau hanya citra visual tentang tradisi?
Di sinilah persoalan mendasar seni rupa Kalimantan hari ini muncul. Yang sering dibawa ke dalam modernitas bukanlah tradisi sebagai sistem pengetahuan, melainkan serpihan bentuk yang telah tercerabut dari konteks sosial, sejarah, dan spiritualnya. Tradisi direduksi menjadi estetika permukaan (surface aesthetics), yang akhirnya kehilangan tubuh sosial yang selama ini menghidupkannya. Akibatnya, yang berkembang bukan dialog antara tradisi dan modernitas, tetapi reproduksi simbol-simbol budaya yang kehilangan makna, sekarat dan kerontang.
Kesesatan persepsi ini berangkat dari cara pandang modern terhadap tradisi. Modernitas cenderung memahami tradisi sebagai objek yang dapat dipilih, dimodifikasi, dan diproduksi ulang sesuai kebutuhan pasar maupun kepentingan artistik. Tradisi diposisikan sebagai sumber daya visual (cultural resource), bukan sebagai sistem nilai yang mengatur relasi manusia dengan masyarakat, alam, dan dunia spiritual. Pandangan seperti ini menunjukkan apa yang disebut oleh Clifford Geertz sebagai kegagalan membaca budaya sebagai webs of significance, yaitu jaringan makna yang hanya dapat dipahami melalui konteks sosial yang melahirkannya. Ketika simbol dipisahkan dari konteks tersebut, ia berubah menjadi dekorasi belaka.
Fenomena ini semakin menguat dalam ekosistem seni rupa kontemporer yang sangat dipengaruhi logika industri kreatif dan pasar global. Tradisi memperoleh nilai bukan karena kedalaman maknanya, melainkan karena daya jualnya sebagai identitas visual. Semakin "lokal" sebuah karya terlihat, semakin mudah ia dipasarkan sebagai representasi Kalimantan. Ironisnya, logika ini justru menghasilkan homogenisasi. Berbagai kebudayaan yang memiliki sejarah dan filosofi berbeda dilebur menjadi satu kategori yang longgar bernama "tradisi Nusantara". Keragaman direduksi menjadi gaya visual yang mudah dikenali dan dikonsumsi.
Dalam kerangka ini, kritik Jean Baudrillard mengenai simulacra menjadi sangat relevan. Baudrillard menjelaskan bahwa masyarakat modern hidup di tengah representasi yang akhirnya menggantikan realitas itu sendiri. Simbol tidak lagi merujuk pada kenyataan, melainkan hanya merujuk pada simbol lain. Hal serupa terjadi dalam seni rupa Kalimantan. Wayang, batik, motif Dayak atau ornamen etnik sering kali tidak lagi merujuk pada sistem budaya yang melahirkannya, tetapi hanya menjadi tanda yang menunjukkan bahwa sebuah karya tampak "Kalimantan". Tradisi berubah menjadi simulasi, dipaksa agar terlihat tetap hidup, padahal hubungan dengan realitas budayanya telah terputus, kering, dan hampir mati.
Kondisi ini melahirkan paradoks. Di satu sisi, semakin banyak karya yang mengangkat tradisi, tetapi di sisi lain, semakin sedikit usaha untuk memahami tradisi secara mendalam. Yang dipelajari adalah bentuknya, bukan epistemologinya. Yang dikutip adalah motifnya, bukan cara berpikir masyarakat yang menciptakannya. Akibatnya, seniman sering merasa telah “melestarikan budaya” hanya karena menggunakan simbol-simbol tradisional, padahal yang terjadi justru reproduksi stereotip budaya. Tradisi diperlakukan sebagai arsip visual yang bebas dipinjam tanpa tanggung jawab oleh siapa saja, bahkan terlalu abai terhadap makna yang dikandungnya.
Sebagaimana dikemukakan oleh Pierre Bourdieu, praktik budaya selalu lahir dari “habitus”, yaitu struktur pengalaman sosial yang membentuk cara berpikir, bertindak, dan mencipta. Tradisi bukan sekadar kumpulan objek material atau selebrasi sacral dalam kemabukan, melainkan hasil dari pengalaman hidup kolektif yang berlangsung selama berabad-abad. Ketika sebuah motif atau ritual dipindahkan ke ruang galeri tanpa membawa habitus yang melahirkannya, sesungguhnya yang berpindah hanyalah bentuk luarnya. Jiwa tradisi tertinggal di tempat asalnya, karena dilupakan oleh senimannya.
Persoalan menjadi semakin rumit ketika modernitas juga mengubah fungsi seni itu sendiri. Dahulu banyak karya lahir sebagai bagian dari ritus, pengabdian, atau kebutuhan komunal suatu Masyarakat tradisional. Kini karya seni hadir dalam sistem kuratorial, biennale, art fair, residensi, dan pasar internasional yang memiliki logika berbeda. Nilai sebuah karya tidak lagi hanya ditentukan oleh kedalaman relasinya dengan masyarakat, tetapi juga oleh kebaruan konsep, posisi dalam diskursus global, dan nilai ekonominya. Tradisi akhirnya dipaksa berbicara dalam bahasa modernitas agar dapat bertahan. Tidak sedikit seniman yang kemudian menyesuaikan tradisi dengan selera pasar internasional dibandingkan mempertahankan kompleksitas makna dan relasi kesukuannya
Namun, persoalan utamanya bukanlah bahwa tradisi berubah. Tradisi memang selalu berubah. Eric Hobsbawm bahkan menunjukkan bahwa banyak tradisi sesungguhnya merupakan invented traditions, tradisi yang terus diciptakan ulang untuk menjawab kebutuhan sosial pada zamannya. Kesalahan terjadi ketika penciptaan ulang itu dilakukan tanpa kesadaran kritis terhadap sejarah dan relasi kuasa yang melingkupinya. Tradisi dianggap sekadar bahan mentah yang bebas direkayasa, bukan pengetahuan yang memiliki etika, konteks, dan memori kolektif yang selama ini terkubur dalam Bahasa pengembangan.
Di sinilah seni rupa Kalimantan menghadapi tantangan yang lebih mendalam daripada sekadar persoalan gaya atau medium. Pertanyaannya bukan lagi bagaimana membawa tradisi ke dalam modernitas, tetapi bagaimana menghindari agar modernitas tidak mengosongkan tradisi dari maknanya. Sebab, ketika tradisi hanya dipahami sebagai identitas visual, seni kehilangan kemampuannya untuk menjadi ruang refleksi budaya. Ia berubah menjadi komoditas yang menjual eksotisme lokal kepada pasar global.
Mungkin inilah ironi terbesar seni rupa Kalimantan hari ini. Semakin sering tradisi dipamerkan, semakin jauh ia dipahami. Semakin banyak simbol budaya dihadirkan, semakin sedikit percakapan mengenai nilai yang melahirkannya. Tradisi memang masih tampak hidup di dinding galeri, ruang pamer, dan media digital, tetapi sering kali ia hanya hidup sebagai bayangan dirinya sendiri.
Karena itu, yang dibutuhkan seni rupa Kalimantan bukan sekadar keberanian mengutip tradisi, melainkan keberanian menafsirkan ulang tradisi secara bertanggung jawab. Tradisi tidak memerlukan reproduksi simbol yang tak berujung, melainkan pembacaan yang kritis terhadap sejarah, relasi sosial, dan cara pandang hidup yang dikandungnya. Tanpa kesadaran tersebut, seni rupa kontemporer Kalimantan hanya akan terus memproduksi citra-citra budaya yang indah, tetapi hampa, bagai orang yang menampilkan wajah tradisi sambil perlahan menghilangkan rohnya.
atau mau beli alat musik Kalimantan?
LIHAT ALAT MUSIK DAYAK
LIHAT ALAT MUSIK MELAYU
Hubungi Admin: 0811 5686 886.
