Reinkarnasi KALBAR dalam GARIS Skip to main content

Reinkarnasi KALBAR dalam GARIS

Pameran Drawing Borneo Metamorfosa


Seni menggambar tidak bisa hanya diartikan sebagai penerapan implementasi garis, namun dia juga sebuah cerita yang dibahasakan dalam bentuk berbeda, mengenai fakta berbeda dan harus dicerna dalam dimensi pikir berbeda dari biasanya. Seni menggambar tidak melulu bercerita tentang bagaimana sebuah keindahan disusun dan dimaknai berdasarkan ego sentris seniman. Dia dilahirkan karena gejolak kontradiksi fakta yang biasanya bertentangan dengan norma hidup senimannya. Seniman tidak melulu mencontoh sebuah fakta atau kejadian, namun lebih memilih menampilkan dalam dimensi pikir berbeda lalu menyadurnya kedalam bingkai karya. Tentunya saduran kejadian sampai kepemaknaan karya akan melalui serangkaian proses pikir dan tafsir, yang akhirnya menjadi kebulatan konsep. Ada kompleksitas fakta yang kebanyakan luput dari perhatian orang. Fakta itu tidak dijabarkan dalam bahasa keseharian, tetapi dijabarkan dalam bahasa garis dan warna. 

Karya Seni Gambar dalam Pameran Drawing Borneo Metamorfosa adalah hasil kematangan konsep tentang realitas kehidupan. Apapun bentuk realitasnya, karya gambar tersebut lahir dari kontemplasi diskursif. Artinya dilahirkan dari kompleksitas tafsir kejadian dalam bahasa garis. Hanya saja mereka memandang dari sisi yang berbeda dan diungkap dengan cara berbeda pula. Satu hal yang membuat semua karya seni gambar dalam pameran Borneo Metamorfosa mempunyai gaya dan erotismenya sendiri, bahwa semua karya adalah reinkarnasi Kalbar yang lahir dari imajinasi liar seorang seniman, dengan kekayaan tafsir namun didasari konsep yang kuat.

Pada sisi lain mungkin ada juga pesan yang belum tersampaikan dan itu hanya bisa didapatkan dengan menyelami setiap proses berkarya senimannya. Oleh karena itu, karya dan seniman tidak bisa dipisahkan, karena simbol yang ditampilkan tidak bisa menjabarkan capaian-capaian pemaknaan baru secara menyeluruh. Pada sisi lain, banyak seniman terhimpit ketidakmampuan ekonomi, namun itulah yang harus disikapi bijak oleh seniman, artinya harus berdamai dengan keadaan, namun tidak mengalah dengan keterbatasan. Itulah alasan yang membuat saya salut, karena seniman berkarya harus juga melawan keterpurukan keadaan.

Borneo Metamorfosa adalah sebuah perubahan bentuk setiap interaksi sosial budaya Kalbar dari sejarah purba sampai kejaman (yang katanya) modern. Refleksi kejadian dan bentuk apapun dalam setiap interaksi sosial budaya akan dipilih dan disaring dalam pemikiran seniman. Disamping itu, ada juga seniman yang mencoba melibatkan diri dalam realitas itu sendiri, walau secara nyata dia hanya dapat dikatakan sebagai penyaksi kejadian. Seniman akan mengungkap fakta tersebut dalam dimensi rasa dan rasio berbeda, lalu mengolahnya dalam imajinasi liarnya. Disinilah seniman itu dapat dikatakan melibatkan diri secara batiniah. Tangkapan visi batiniah inilah yang akan melahirkan sebuah karya seni sebagai bingkai pemaknaan baru dari semua fakta yang dia alami, yaitu tentang fakta Kalimantan Barat dari sudut pandang berbeda.

Ada kalanya kita menyandingkan karya dengan pemikiran umum dan kenyataan faktual dalam kehidupan, namun pada sisi lain kita tidak dapat menjangkau kedalaman persepsi seniman ketika melahirkan karya. Akhirnya sebuah karya dijabarkan multitafsir. Inilah yang membuat karya itu selalu berkembang dan selalu seksi ketika dibawa dalam diskusi. Sama halnya Pameran Drawing Borneo Metamorfosa, dia adalah hasil pemikiran multitafsir yang harus dibaca berbeda. Karena menyaksikan sebuah karya tidak bisa membawa persepsi yang biasa saja, karena kita akan mempersempit pemaknaan karya itu sendiri. Koridor pemikiran umum selayaknya ditinggalkan diluar ruang pamer, dan masuklah dengan kekosongan akal, karena dari sana kita mudah memahai suatu kebaruan sesuai dengan pengalaman batin dan semangat kekaryaan. Walau kadang terlalu absurd untuk kita cerna. Itulah seni, dengan semangat dan alamnya sendiri.

Borneo Metamorfosa tidak bisa dipandang hanya sebagai susunan garis acak lalu dilahirkan begitu saja dalam bingkai karya tanpa konsep. Borneo Metamorfosa adalah bahasa rasa yang bercerita tentang sisi lain dari kehidupan Kalbar, tentang nostalgia dan sejarah purba yang kebanyakan luput dari perhatian manusia. Oleh karena itu, dia dianggap sebagai reinkarnasi kebaruan persepsi dengan makna berbeda. Ketika kita mempertanyakan keterkaitan karya dengan fakta kehidupan yang kita alami, maka jangan dipaksakan untuk selalu sama. Karena fakta yang mereka rasakan pasti berbeda dengan yang kamu rasakan, fakta yang mereka pikirkan akan berbeda dengan yang kamu pikirkan, dan fakta itu akan ceritakan dalam bahasa berbeda pula. Seniman hanya mengajak kamu untuk menyaksikan wajah kecil Kalbar dari sudut pandang berbeda dan harus dicerna dengan pemikiran berbeda dari biasanya. Itu karena mereka mempunyai keterbatasan berbicara, sehingga mereka mengungkapnya melalui garis dan warna.

Dialektika kehidupan itu berjalan sesuai interaksi kumpulan manusia pada jamannya dan akan melahirkan kebutuhan baru sebagai pendukung kehidupan. Kebutuhan baru itu cenderung meninggalkan pola lama dan menggantinya dengan yang baru. Kebanyakan orang hanya menikmati perubahan pola hidup berdasarkan perubahan itu. Bagi orang yang tidak terbiasa dengan modernitas akan dipaksa menyesuaikan dan cenderung terpinggirkan, dianggap tertinggal dalam perkembangan.. 

Pameran Drawing Borneo Metamorfosa

Seperti seorang Agus Arifin salah satu seniman yang terlibat dalam Pameran Drawing Borneo Metamorfosa. Sosok Agus adalah orang yang terpaksa harus modern ditengah kehidupan urban masyarakat kota Pontianak. Seorang Agus bukan menolak pembangunan, hanya saja dia masih sayang dengan kehidupan sederhana bersama hutan belantaranya. Sekilas fenomena rasa yang ada dalam diri Agus dianggap janggal dan terlalu mendistorsi romantisme jaman. Namun jika kita berpikir lebih dalam, seorang Agus hanya berpikir sederhana yang tidak memaknai pengadaan kebutuhan sekedar membangun dan dimanfaatkan. Namun dia juga menangkap realita lain dalam benaknya, yaitu nostalgia lama tentang hutan Kalbar yang kebanyakan terlewat dalam benak orang-orang kota. Tentang kicau burung enggang yang mungkin harus ada diantara hiruk pikuk kota Pontianak. Hal itulah yang dia gambarkan dalam karya “Melihat Dari Tepian”, seperti apa yang dikatakannya, “Gambar Penglihatan insan "Seniman" dimana pandangan tertuju pada jembatan penghubung sungai Kapuas di Pontianak. Konsep berwarna adalah gambaran masa kini sedangkan konsep monokrom hitam putih adalah masa lampau. Karya ini akan menjadi cerita dihari esok seperti masa lampau yang menjadi cerita dihari ini”.

Pemikiran seorang Agus adalah radikalisasi batin. Kehidupannya kurang nyaman dengan keadaan. Dia merasa alam pikir dan rasanya ikut dibangun oleh modernitas yang tidak sesuai keinginan. Pada sisi lain, dia sadar dan butuh pembangunan, butuh peningkatan ekonomi hidup seperti orang kebanyakan, butuh menikmati fasilitas modern untuk memudahkan pekerjaan. Namun hasrat tetap tidak setuju jika harus merusak alam dan menipu. Menipu diri sendiri dengan alasan pembangunan dan ini melahirkan kontroversi dalam benak Agus. Koridor kenyamanan hidupnya terganggu dan melahirkan “melankolia” hutan dan habitat liarnya, walau dia sadar kalau nostalgia purba itu adalah sebuah absurditas pemikiran, imbas dari pembangunan yang akan dia bawa bersama keluarga kecilnya. Fenomena kegilaan pikir ini timbul karena dia mengalami imbas dari maraknya penanaman kelapa sawit. Memang Agus tidak menolak kelapa sawit, karena dia sadar masyarakat juga butuh pertumbuhan ekonomi yang sehat. Namun imbas dari alih fungsi lahan hutan menjadi kelapa sawit berimbas juga pada keterpurukan kehidupan masyarakatnya. Hal ini dia gambarkan dalam dalam karya “Kelapa Sawit”, seperti apa yang dikatakannya, “Menggambarkan beberapa dampak negatif dari maraknya penanaman Kelapa Sawit yang disertai penebangan hutan di bumi Borneo, dampak meliputi tergerusnya ekosistem dan habitat satwa serta lingkungan yang rawan banjir”.

Seorang Agus bukan menolak pembangunan. Dia hanya berpikir lain dari kebiasaan. Walau deformasi hasrat seorang Agus itu sebuah kemustahilan dan rumit untuk diwujudkan, namun itu sah-sah saja ketika diangkat dalam wacana berbeda. Setidaknya kita juga harus berpikir agar jangan sampai hutan yang kita miliki dibangun untuk kepentingan tertentu yang membuat punah habitatnya. Jangan sampai pembangunan hutan dibiarkan berjalan dengan tidak semestinya. Pembangunan akan membabat juga budaya sekitarnya. Itu realita yang tidak mungkin disandingkan dengan pembangunan, kecuali dengan pemakluman. Akhirnya semua harus dimaklumi, seperti kata “membangun harus ada yang dibuang, jadi harap maklum”. Kontradiksi berpikir saya dederhana saja, saya yakin orang yang membaca tulisan ini kebanyakan tidak pernah melihat pohon Belian (ulin), apalagi anak cucu kita. Mungkin juga tidak pernah melihat burung enggang secara langsung.  Kita hanya melihat dalam televisi atau hp saja, namun kita tidak pernah tau enggang sebenarnya.

Pameran Drawing Borneo Metamorfosa

Berbeda dengan Bani Hidayat yang bercerita tentang sungai di kampungnya. Sebuah kampung yang sebenarnya masih dekat dengan kota, masih terbilang ramai dan sebagian besar masyarakat bergantung dengan sungai sebagai penopang ekonomi dan kehidupan mereka. Seorang Dayat tidak memandang sisi pergolakan, namun sebagai wujud syukur terhadap sungai yang tidak tergerus ego pembangunan. Sebuah kehidupan sederhana namun damai, membuat dia juga harus menjadi sosok pelindung bagi sungai itu sendiri. Namun sampai kapan angan itu akan bertahan. Atau seorang Dayat sebenarnya belum sadar kalau sungai itu juga sudah tunduk dibawah hierarki pembangunan yang sebentar lagi akan menenggelamkan angan dan harapan.

Seorang Dayat bukan sosok melankolis. Dia sosok tegar untuk menyadur kehidupan dalam kesendirian. Dayat mirip sosok penjaga dalam karyanya, yang masih setia menemani hari-hari manusia sambil bercerita, walau cerita itu terbaca kesunyian dan cenderung tidak diperdulikan. Dayat menangkap krisis perhatian terhadap sungai walau dia membahasakan dengan tatanan garis ekspresif, namun didalamnya penuh dilema. Dilematik ini tergambar dalam sosok penjaga yang selalu melihat sungai dan interaksi manusia disekitarnya. Lalu gambar bulatan yang menjadi kebulatan tekad pelestarian yang seharusnya dijalankan masyarakat, mungkin kini sudah tidak terpikirkan lagi. Berganti dengan ambisi pembangunan dan kepentingan berbeda.

Saya juga sebagai saksi hidup tentang sungai yang diceritakan Dayat. Memang Dayat bukan sosok melankolia, tapi sebagai wujud penjaga sungai tua. Dayat tidak menceburkan diri pada kedalaman sungai tua itu. Tapi Dayat mempunyai angan agar sungai itu tetap damai dan lestari, walau dia sendiri tidak bisa terlalu banyak berharap. Itulah yang disampaikan melalui “Cerita Sungai Tua”. Dayat mengatakan “Ikan menjadi simbol kebahagian. Sementara objek bulat sebagai simbol arah dan penentu cahaya dari ambisi kehidupan disekelilingnya. Sungai ku (kapuas) sudah tua tetapi tetap indah untuk dibaca. Saya berusaha menggali garis-garis itu dari alam sekitar, urat urat kayu serta serat serat daun menjadi ritme garis-garis kehidupan. Lukisan ini adalah rangkuman dari apa yang menjadi penglihatan rasa terhadap sungai di kampung saya, tidak ada kota, tidak ada konflik, hanya sebuah pesan agar selalu selaras dengan alam untuk tujuan bahagia”.

Pameran Drawing Borneo Metamorfosa

Kadang harapan tidak sejalan dengan kenyataan. Keindahan sungai tua sekarang sudah tergerus ambisi kehidupan masyarakatnya sendiri. Dari sini kita sadar, bahwa sebuah rasa indah dan damai itu kadang hilang karena dihancurkan oleh pemiliknya sendiri. Tanpa disadari namun dipaksa bijak dengan alasan kebutuhan hidup. Kita sadar, namun kita terpaksa diam, karena kita salah satu pelaku kehancuran itu.   

Suatu ketika saya merasa naif melihat karya istri saya. Puji Rahayu yang saya kenal dekat bukan sosok pembaca sejarah. Dia adalah pendengar cerita dan pembaca simbol. Karya drawingnya bergaya surealis mencengangkan saya, karena kebanyakan karya dia bergaya dekoratif. Ketika saya tanyakan kenapa memilih gaya yang tidak seperti biasanya. Katanya hanya ingin mengungkap sisi lain dari kisah perjalanan. Dia menggambar perahu, hanya sekedar perahu. Ketika saya hubungkan dengan karya Dayat yang bercerita tentang nostalgia sungai tua, saya mendapati kontroversi pemikiran. 

Seorang Puji Rahayu tidak membaca fenomena perkembangan jaman dan pemajuan pembangunan yang berimbas pada lingkungan. Dia hanya bercerita tentang kisah perjalanan yang penuh dengan tanggungjawab dan tetek bengek permasalahan. Satu sisi dia melawan arus jaman yang mengatakan bahwa “perempuan adalah sosok yang harus ikut dan nurut saja dalam kehidupan rumah tangga”. Namun dia adalah sosok yang berjuang untuk kehidupan rumah tangga kecil itu sendiri, sampai dia mendapatkan arti keluarga sesungguhnya. Puji Rahayu hanya berdamai dengan keadaan dan terus berkayuh maju dengan bahteranya, yang mungkin juga sudah melalui sungai tua seperti yang diceritakan Dayat.

Puji Rahayu hanya berjuang untuk keluarga kecilnya dan itu dia gambarkan melalui perahu kecil berlayar menuju cahaya. Mungkin dia sosok terakhir seorang perempuan yang masih berjuang keras untuk menuju cahaya kehidupan seperti apa yang digambarkan Dayat dalam karya Cerita Sungai Tua. Hanya saja Puji Membawa cerita sendiri, tentang perjuangan mengayuh bahtera diantara gelombang kehidupannya yang jauh dengan kehidupan manusia lainnya. Dia bukan sosok penjaga, namun sosok pejuang untuk mewujudkan keindahan rumah tangganya sendiri. Seperti apa yang dikatakan Puji Rahayu, “ketika gelombang besar dan perahu oleng, jangan pernah meninggalkan perahu apapun alasannya, karena kita akan bisa tetap saling menjaga”. 

Pameran Drawing Borneo Metamorfosa

Seketika itu juga hanya tersenyum. Saya menyangka sudah mengerti dalam tentang istri saya, tapi ternyata hanya tersesat dirimba pemikiran sendiri. Dari sini saya sadar, kadang ada suatu hal yang tidak menuntut kita harus fahami, namun harus menyatukan rasa dalam petualangan. Dari situ kita memahami, bahwa hidup adalah kembara nafas yang perlu dipasrahkan sepenuhnya kepada Sang Ilahi, karena Dia adalah sumber segala ilmu dan pengertian, juga kasih sayang untuk kita bawa dalam kehidupan. Hanya saja skenario dan kejadian yang sudah ditetapkan kadang bertentangan dengan keinginan. Itulah nafsu yang terlalu liar dan takut kita akui sebagai kebodohan.

Membaca karya seni “bukan mempersepsi dengan kaharusan”. Sebuah karya seni mutlak beracuan pada nilai estetis, namun bisa saja mempunyai multi tafsir. Artinya kita jangan mempersempit makna sebuah karya. Namun karya juga pasti mempunyai konsep yang jelas sebagai latar belakang lahirnya. Begitu juga dengan seni menggambar, tidak sekonyong-konyong ada dan dimaknai secara membabi buta. Dialah kumpulan garis yang lahir dari persetubuhan logika, rasa, dan imajinasi seniman, saling terkoneksi, mengandung cerita, dan mempunyai ungkapan makna. Terlalu kompleks tapi asik untuk diapresiasi. Itulah keindahan seni yang tidak mati walau dalam perkembangan zaman apapun. Seni akhirnya mencari jalan dan tempatnya sendiri. Dihati pemerhati dan orang-orang yang mau berdamai dengan ego sentris dirinya sendiri.

Ingat…!!! Semua karya seni itu mempunyai diksi berbeda dan akan dimaknai berbeda oleh setiap penyaksi karya. Intinya jangan pernah melempar satu pemikiran mutlak, karena pemikiran itu juga yang akan menipu, kalau hatimu tidak terbuka seperti langit. Cukup saksikan saja, biarkan hatimu bercerita tentang pengalaman imajinasi karya. Karena itulah kenyataan yang kamu tangkap dan itu pasti berbeda pada semua orang. Jika kamu tanyakan kepada senimannya tentang ide, konsep, dan proses berkarya, maka itu kenyataan yang juga tidak mutlak. Saya yakin, bagaimanapun kamu berdiskusi dengan senimannya, pasti masih menyisakan kebingungan yang terus mencari penyelesaian. Itulah sisi binalnya karya seni, selalu seksi ketika dibawa dalam ruang diskusi, selalu hangat ketika berbeda pendapat, dan mudah dikenal oleh jiwa-jiwa yang nakal.

Sadarlah… tulisan yang kamu baca ini juga sebuah karya. Hanya saja banyak orang mengabaikannya. Mungkin pemikiran kita berbeda, dan biarkan saja berbeda. Karena perbedaan itu akan memperkaya sebuah karya. Semoga anda juga berpikir berbeda dari kebanyakan penyaksi karya, lalu bisa membawa kebingungan dengan sewajarnya sebelum anda dibuat lebih bingung ketika memasuki ruang Pameran Drawing Borneo Metamorfosa. Ingat… kebingungan itu sebenarnya adalah bahasa tafsir baru, hanya saja dia belum terkoneksi dengan imajinasi liarmu. Karena kamu masih membawa ego sentrisme lama, dan berkutat dengan pemikiran itu saja. Ketika kamu masuk dalam ruang pamer Borneo Metamorfosa, jangan menjadi penyaksi karya biasa seperti kebanyakan orang lainnya. Jangan hanya masuk dalam “ruang” pamernya saja, tapi masuklah ke dalam “Borneo Metamorfosa” sehingga kamu dapat melihat wajah Kalimantan Barat dalam bentuk berbeda. Mungkin itulah wajah Kalbar sesungguhnya.


Mau beli alat musik Kalimantan?
LIHAT ALAT MUSIK DAYAK
Hubungi Admin: 0811 5686 886.
Newest Post
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar