Skip to main content

Legenda Riya Sinir dan Dara Itam 1


Pertemuan Pertama Riya Sinir dan Dara Itam

Zaman dahulu di daerah Kabupaten Landak Kalimantan Barat, ada sepasang suami isteri yang bernama Kaleber dan Anteber. Mereka melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ria Jambi. Setelah dewasa, Ria Jambi dinikahkan dengan seorang perempuan bernama Ngantan Barangan yang berasal dari Gunung Sambas. Dari perkawinan mereka, terlahir lima orang anak yang diberi nama; Ria Tanu, Ria Kano, Ria Rinding, Ria Tanding, dan Ria Jane.

Suatu hari, datang seorang anak laki-laki bernama Riya Sinir ke rumah Ria Jambi. Bocah itu mengaku berasal dari Gunung Sambas yang mengaku anak Ngantan Barangan dengan suami pertamanya Bujang Nyangko. Ria Jambi yang bijaksana menyambut Riya Sinir dan menganggapnya seperti anak sendiri.

Tidak seberapa lama tinggal bersama keluarga Ria Jambe, Riya Sinir meminta izin pada ayahnya untuk berburu enggang di hutan. Riya Sinir bermaksud menjadikan burung itu sebagai obat untuk penyakitnya yang tidak tampak (penyakit karena gangguan makhluk halus).

Ria Jambe sangat sayang dengan Riya Sinir yang berbudi baik dan tau kalau anak itu akan menjalani takdirnya sebagai pelindung masyarakat Dayak. Akhirnya Ria Jambe memberi petunjuk hutan mana yang harus dimasuki oleh Riya Sinir dan membekalinya dengan sebuah sumpit yang terdapat mata tombak di depannya.

Berbekal petunjuk dan Sumpit, Riya Sinir berangkat dengan memohon restu semua keluarga dan perlindungan Jubata. Ia masuk semakin dalam ke jantung hutan tanpa rasa takut sedikit pun. Ketika melangkah, seakan tanahlah yang menuntun jalannya. Ia tahu bumi mana yang bisa dipijak.



Selama perjalanan menuju jantung hutan di Kabupaten Landak yang berdekatan dengan Kabupaten Mempawah, Riya Sinir banyak mengalami gangguan makhluk halus. Namun semua bisa disingkirkan dengan bekal ilmu yang diwarisi dari Bapaknya si Bujang Nyangko sebagai orang sakti dan bijaksana. Dari semua hantu dan makhluk halus yang dia taklukkan, ada yang menjadi pengikut Riya Sinir dan diapun mendapat beberapa ilmu dari petualangannya tersebut, sehingga Riya Sinir menjadi tambah sakti.

Hari berganti hari, bulan bulan berganti bulan, akhirnya Riya Sinir sampai disuatu tempat yang indah dan sangat menyenangkan hati. Walau dia terpesona dengan tempat tersebut, Riya Sinir tetap waspada dengan kemungkinan mara bahaya yang bisa saja timbul tanpa terduga.

Riya Sinir mendengar tajam tanda alam disekitarnya. Bau tanah dan daun-daun busuk yang gugur menjadi aroma pengiring. Langkahnya terhenti sejenak ketika seekor ular yang sangat besar (biasa disebut Nabau oleh masyarakat Dayak) melintas didepannya. Lalu, sebuah suara mengkaok membuatnya tersenyum. Secepat kilat Riya Sinir melesat mendekati sumber suara. Dia yakin bahwa itulah burung yang dia cari.

Dari balik pepohonan Riya Sinir mengintai burung enggang yang dia cari. Burung itu bertengger rendah tidak seperti biasanya burung enggang yang selalu hingga pada pohon yang tinggi. Riya Sinir sudah merasa ada keanehan, namun dia tetap menyiapkan sumpitnya. Ia menyumpit burung enggang itu, tapi meleset. Enggang terbang menjauh dan Riya Sinir mengejar burung tersebut. Tiba-tiba seorang anak perempuan tiba-tiba menghadang pengejarannya.

Riya Sinir kaget dan hampir marah pada anak itu. Tapi kemarahannya mereda, karena melihat anak perempuan itu terpeleset jatuh ke dalam jurang kecil didekatnya. Riya Sinir mengurungkan niatnya berburu dan menolong anak tersebut.

Setelah di tolong anak gadis itu mengucapkan terima kasih sembari memperkenalkan namanya Dayang Selimpat. Dia menanyakan apa yang menjadikan Riya Sinir berada ditengah hutan ini dan memburu burung enggang peliharaannya. Dayang Selimpat inilah nantinya yang bergelar Dara Itam.

Riya Sinir memperkenalkan diri dan menceritakan maksudnya untuk mencari obat yang bahan utamanya dari burung enggang tertentu dan ia menemukan ciri yang ia maksud pada burung enggang peliharaan gadis tersebut.

Mendengar cerita Riya Sinir, Dayang Selimpat terdiam. Ia pernah mendengar ayahnya mengatakan tentang penyakit yang tak terlihat. Penyakit itu disebabkan gangguan roh jahat. Karena merasa berhutang budi pada Riya Sinir yang menolongnya dari jurang, akhirnya Dayang Selimpat berniat memberikan burung enggang peliharaannya kepada Riya Sinir.

Dayang Selimpat kemudian bersiul memanggil burung peliharaannya. Tak seberapa lama burung enggang itu terbang hinggap ditangannya, lalu menyerahkan burung itu pada Riya Sinir. Dia juga memberi petunjuk bagaimana membuat ramuan obat dari burung itu agar penyakit Riya Sinir bisa sembuh dengan baik.

Riya Sinir mengucapkan terima kasih dan pamit pulang kerumahnya. Mereka berdua tersenyum dan dalam hati masing-masing telah membekas rasa suka sama suka yang nantinya akan menjadi kisah asmara dipetualangan selanjutnya.

Itulah kisah pertemuan pertama Riya Sinir dengan Dayang Selimpat yang kelak bergelar Ne’ Dara Itam. Tunggu kisah kembara Riya Sinir dan Dara Itam selanjutnya. Salam budaya.

bersambung ke bagian 2, Legenda Riya Sinir dan Dara Itam 2.

Sumber data :
Foto: Koleksi Sanggar Borneo Tarigas Pontianak, Kalimantan Barat.
Cerita langsung beberapa tokoh masyarakat, penggiat budaya, dan pelaku seni tradisi, https://nopinopia.blogspot.com/, dan https://folksofdayak.wordpress.com/
Mau beli alat musik tradisional Kalimantan?
hubungi: 0898 8566 886 - 0811 5686 886.
Mau Lihat alat musiknya? klik link berikut
LIHAT ALAT MUSIK DAYAK atau LIHAT ALAT MUSIK MELAYU
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar