Skip to main content

Legenda Riya Sinir dan Dara Itam 4 selesai



Cerita sebelumnya Riya Sinir ditugaskan Raja Pulang Palih mengambil tengkorang kepala Patih Gumantar, bapaknya Dayang Selimpat. Dia bersama beberapa pengawal kerajaan berangkat menuju daerah kerajaan Biaju dengan bekal yang sudah disiapkan.

Cerita ini adalah sambungan dari cerita sebelumnya, Legenda Riya Sinir dan Dara Itam 3. Sebaiknya anda membacanya agar jalan cerita runut dan semakin menarik.

Sesampainya didaerah kekuasaan Biaju, Riya Sinir dan pengikutnya mulai mengintai Rumah Betang kerajaan Biaju. Terlihat mereka menaruh tengkorak Patih Gumantar didalam sebuah Tajau Turus, disebuah pondok yang dijaga ketat.

Melihat begitu sulitnya menembus pertahanan lawan, maka Riya Sinir sudah mempersiapkan taktik yaitu dengan menggunakan uang tiga gantang yang sebelumnya ia mintakan sebagai syarat dari Raja Pulang Palih. Pada malam hari ia mengangkut semua uang tadi dan menghamburkan uang itu ditempat orang-orang Biaju biasa mengambil air. Sebagian ada yang diikat dan disangkutkan pada pohon untuk menuba (meracuni) ikan.

Esok paginya ketika orang-orang Biaju pergi menimba air, terlihatlah begitu banyak uang yang bertaburan. Kemudian mereka segera berlarian ke rumah betangnya dan memberitahukan uang yang jatuh dari langit, tanpa pikir panjang pergilah berduyun-duyun semua orang biaju dari rumah panjangnya untuk memungut uang yang bertaburan dan tersangkut di pokok pohon tuba.

Rakyat Biaju menebang pohon tuba untuk mengambil uang dan akhirnya pohon tuba itu jatuh ke sungai, sehingga meracuni ikan di sungai dan membuat banyak ikan timbul. Semakin ramai orang Biaju memungut uang dan ikan, sehingga melupakan penjagaan Rumah Betang dimana tengkorak Patih Gumantar disimpan.

Melihat kesempatan itu Riya Sinir sesegara mungkin mengambil Tajau Turus yang berisi tengkorak Patih Gumantar dan membawanya keperahu mereka. Kemudian Riya Sinir memerintahkan para pengawal mengayuh kapal sekuat tenaga. Cepatlah mereka meninggalkan daerah Biaju untuk kembali ke Tembawang Ambator.

Menurut sumber cerita yang lainnya, dibetang kerajaan Miaju masih ada yang berjaga, termasuk pemimpin mereka. Riya Sinir akhirnya terlibat pertempuran sengit dengan berhasil mengayau jkepala pemimpin wilayah Biaju, namun tidak membawa kepala pemimpin tersebut. Hal ini karena Riya Sinir sadar, jika kepala Raja Biaju itu dibawa pulang, maka akan menimbulkan dendam dan perebutan kepala itu kembali dikemudian hari. Kepala pemimpin Biaju itu diangkat Riya Sinir sambil mengeluarkan terikan tariu. Melihat pemimpin Biaju sudah dikayau, maka rakyatnya menjadi gentar dan mengakui kekalahan mereka. Akhirnya Riya Sinir dapat bebas pulang dengan tenang ke Ambawang Ambator, tempat Raja Pulang Palih.

Sesampainya dikerajaan Pulang Palih, Riya Sinir disambut oleh Raja dan Dayang Selimpat. Raja Pulang Palih teringat akan janjinya. Raja Pulang Palih hendak mengaruniakan salah satu dari istrinya yang memang terkenal akan kecantikannya.

Esok harinya Raja memerintahkan keenam istrinya untuk berdandan sebaik mungkin, sedangkan Dara Hitam ia sembunyikan di dapur dan sengajak digosok arang sampai kulitnya menjadi hitam. Dayang selimpat sengaja disembunyikan didapur dan didandani layaknya perempuan jelek. Dari sinilah ia mulai disebut Dara Itam. Sedangkan keenam isteri Raja yang lain didandani sangat cantik. Kemudian raja berkata kepada Riya Sinir untuk bebas memilih dari keenam istrinya itu.

Rakyat berkumpul dibalai pertemuan untuk menyaksikan peristiwa itu. Riya Sinir memepersembahkan kepala Patih Gumantar pada Raja. Lalu Raja pun memenuhi janjinya. Riya Sinir boleh memilih salah satu isterinya untuk di bawa pulang. Riya Sinir tak melihat Putri Tanjung Selimpat di antara keenam isteri raja. Ia menduga kalau Sang Putri disembunyikan.



Secara halus Riya Sinir menolak perintah raja untuk memilih satu diantara enam istrinya. Dia hanya menginginkan Dayang Selimpat atau Dara Itam, karena dia jatuh hati kepada gadis tersebut. Dia juga ingat kalau gadis itulah yang membantunya dulu di hutan.

Riya Sinir mengeluarkan kunang-kunang dan berkata kepada raja. “Kepada siapa kunang-kunangku ini hinggap, maka dialah yang akan ikut denganku untuk kubawa pulang”, maka dengan kesaktiannya Riya Sinir mengambil daun sirih kemudian dilicut-licutkannya. Seketika itu keluarlah seekor kunang-kunang. Kunang-kunang itu terbang mengelilingi enam istri Raja, akhirnya terbang menuju dapur.

Melihat kejadian itu hati raja sangat gelisah, sebab disana Dara Itam berada. Maka benarlah kunang-kunang Riya Sinir hinggap dihidung Dara Itam. Melihat hal itu Raja Pulang Palih sangat kecewa, namun ia sudah terlajur berjanji kepada Riya Sinir, dan sebagai kesatria dia harus memegang sumpahnya.

Dayang Selimpat meneteskan air mata. Berat rasanya memenuhi keadaan ini. Dalam hatinya ada rasa suka dan iba kepada Raja Pulang Palih sebagai suaminya. Tapi ia juga kagum terhadap kesaktian Riya Sinir yang telah merebut kembali kepala ayahnya.

Raja menghela napas. Ia membesarkan hatinya lalu berkata, “Aku mohon maaf telah menyembunyikan salah satu isteriku. Tapi ternyata, aku tak bisa mencegah takdir. Telah menjadi hakmu wahai Riya Sinir. Bawalah Permaisuri yang sangat kucintai ini bersamamu.”

Suasana menjadi gaduh., warga yang hadir dibalai pertemuan itu memiliki pendapat berbeda. Sebagian mengagumi kebijaksanaan Raja yang telah memenuhi janjinya. Meskipun hal itu melukai hatinya sendiri. Mereka juga tak rela jika raja harus berpisah dengan cintanya. Sementara sebagian lainnya membela keberanian Riya Sinir yang mampu memenuhi permintaan Permaisuri dan itu sudah menjadi takdirnya.

“Dayang Selimpat, mulai saat ini, kau kupanggil dengan nama Dara Itam. Selanjut Riya Sinir menyambung ucapannya, “kau masih ingat, aku adalah laki-laki yang sembuh dari penyakit karena burung enggang piaraanmu.”

Dara Itam tampak terkejut. “Jubata telah menasibkan kita untuk bersatu. Bagaimana pun caranya.”

Kemudian, siang itu menjadi hari paling mengharukan. Rakyat mengiringi kepergian Permaisuri yang mereka cintai. Raja Pulang Palih menyerahkan pula sebagian dari wilayah kerajaan Landak untuk dipimpin Riya Sinir dan Dara Itam. Ia juga tak melarang rakyatnya yang ingin ikut dengan mereka.

Sebelum mereka pergi, raja memberikan amanat bahwa Riya Sinir dan Putri Tanjung Selimpat hanya boleh menikah setelah bayi yang dikandungnya lahir. Bila Bayi itu akan menjadi anak Raja. Lalu kemudian dinamai Raden Ismahayana.

Beberapa waktu setelah anak itu lahir, Riya Sinir dan Dara Itam melangsungkan pernikahan. Lalu mereka melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ria Tanu. Raja Pulang Palih yang baik lantas menyatukan keduanya menjadi saudara. Agar tak ada perpecahan di antara masyarakat. Mereka pun hidup aman dan tenteram dengan menghormati satu sama lain.

Sebagai catatan: Beberapa bulan kepergian Riya Sinir dan Dara Itam, akhirnya Dara Itam melahirkan anak kembar laki-laki dan perempuan yang diberi nama Lutih dan Kari. Anak laki-laki dibawa Raja Pulang Palih, sementara anak perempuan ditinggalkan bersama Riya Sinir dan Dara Itam.

Sumber data
Foto: Koleksi Sanggar Borneo Tarigas Pontianak, Kalimantan Barat.
Cerita langsung beberapa tokoh masyarakat, penggiat budaya, dan pelaku seni tradisi, https://nopinopia.blogspot.com/, dan https://folksofdayak.wordpress.com/
Mau beli alat musik tradisional Kalimantan?
hubungi: 0898 8566 886 - 0811 5686 886.
Mau Lihat alat musiknya? klik link berikut
LIHAT ALAT MUSIK DAYAK atau LIHAT ALAT MUSIK MELAYU
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar