Skip to main content

Legenda Riya Sinir dan Dara Itam 2


Raja Pulang Palih Menyunting Dayang Selimpat

Setelah Riya Sinir dan Dayang Selimpat berpisah, ada kerinduan dalam hati keduanya untuk bertemu kembali. Kerinduan dalam kembara hati dua anak manusia sebagai anugerah terindah dalam hidup mereka. Kedua anak manusia itupun berharap bertemu kembali dalam suka cita disuatu saat nanti.

Kisah ini merupakan Sambungan dari Legenda Riya Sinir dan Dara Itam 1. Silahkan membacanya agar runut dan enak mengikuti jalan ceritanya.

Sementara disebuah kerajaan, Patih Gumantar seperti biasa pemimpin Kerajaan Mempawah yang berkedudukan dekat pegunungan Sidiniang, Sangking, Mempawah Hulu. Berdirinya kerajaan ini diperkirakan tahun 1340 Masehi.

Konon Patih Gajahmada adalah saudara dari Patih Gumantar ini, salah satu peninggalan Patih Gajahmada di kerajaan Mempawah ini adalah sebuah keris Susuhan yang diberikan Patih Gajahmada sesudah ia melakukan lawatannya ke kerajaan Muang Thai untuk membendung serangan pasukan Mongol.

Patih gumantar mempunyai tujuh orang anak perempuan, dan tidak mempunyai anak laki-laki. Salah satu puteri Patih Gumantar yang dikenal akan ilmu pengobatannya adalah Dayang Selimpat, ia sangat disayangi oleh masyarakatnya karena suka membantu setiap orang tanpa ragu dan pamrih. Dayang selimpat juga mempunyai budi luhur, dan selalu menghormati siapa saja. Dia tidak membandingkan rakyat jelata dengan dirinya sebagai puteri raja. Dia menganggap manusia sama, hanya takdir yang membuat mereka berbeda.

Suatu ketika Dayang Selimpat sedang mandi di Sungai, rambut Dayang Selimpat tercabut satu helai. Sangking panjangnya rambut Dayang Selimpat ini bisa memenuhi sebuah bokor. Gumpalan rambut Dayang Selimpat ini hanyut dan terlihat pengawal Raja Pulang Palih. Kemudian hal ini dilaporkan kepada Raja. Sangking herannya Raja Pulang Palih menjadi penasaran untuk mencari siapa pemilik rambut tadi. Kemudian raja dan pengawalnya ini menyusuri sungai untuk mencari sang pemilik rambut tersebut.

Setelah jauh mereka mendayung sampailah mereka disebuah kampung di Tembawang Selimpat, disana mereka bertanya kepada seorang anak yang sedang menimba air mengenai pemilik rambut tersebut. Sianak ini menjelaskan dengan rinci bahwa di kampung ini ada seorang wanita cantik jelita sebagai pemiliknya namun wanita tersebut sedang mengobati orang lain.

Rasa penasaran membuat raja Raja Pulang Palih ingin melihat sendiri bagaimana sosok Putri Tanjung Selimpat. Lantas ia menyamar sebagai seorang yang sedang sakit agar Putri bersedia menemuinya.

Seperti biasanya, Putri membawa tanaman obat ke sungai untuk dibersihkan. Saat sedang berjalan ke sana, tiba-tiba ada seorang lelaki yang tergesa-gesa menghampirinya, “Ada apa, Tuan?”
“Tolonglah saudara saya yang sedang sakit. Dia ada disampan di tepi sungai.”

Putri Tanjung Selimpat mengangguk. Ia lantas ikut naik ke dalam sampan dan memeriksa seorang laki-laki yang duduk dengan lemah di sana. Raja Pulang Palih tak bisa mengalihkan pandangannya pada Putri Tanjung Selimpat. Gadis itu memiliki mata seperti elang, namun raut mukanya tenang. Kulitnya kuning langsat dan rambut panjangnya dipilin berhias beberapa manik-manik. Anting logam bergelantung pada sepasang daun telinganya.

“Kenapa Tuan melihat saya seperti itu?”
“Semoga Sang Jubata mengampuniku. Aku telah membohongi seorang bidadari yang turun dari langit, hanya demi bisa berdekatan dengannya.”
Putri berhenti memeriksa, ia menatap mata Raja yang juga sedang menatapnya, “Apa maksud, Tuan?”

Siraja menceritakan tentang rambut Dayang Selimpat yang hanyut ketika itu. "Suatu hari, sehelai rambut tersangkut pada jaring seorang pencari ikan Kerajaan Landak. Lalu ia melaporkan pada Raja. Penasaranlah sang Raja pada pemilik helai rambut yang katanya berparas jelita dan berbudi luhur. Lalu Raja menyamar menjadi seorang yang sedang sakit agar Putri bersedia menemuinya. Dan membuktikan sendiri kalau pemilik helai rambut itu memang sangat cantik.”

Putri tertunduk, “Saya tak keberatan mengobati sakit siapa pun. Tapi saya tidak suka cara Tuan mempermainkan saya. Selama saya memeriksa Tuan yang sebenarnya sehat bugar, waktu saya untuk menolong orang lain terbuang sia-sia.”

Raja tersenyum kagum. “Kalau begitu, aku minta maaf atas perbuatanku. Lalu izinkan aku mengutarakan maksudku yang lain.”

“Silahkan”. Jawab Dayang Selimpat memberi kesempatan kepada Raja Pulang Palih.

Raja Pulang Paling menyambung perkataannya. “Aku punya enam orang isteri, tapi dari kesemuanya tak ada yang memiliki kesempurnaan sepertimu. Wahai Putri Tanjung Selimpat, sudikah kau menjadi isteriku, dan akan kujadikan Ratu Permaisuri Kerajaan Landak. Betapa akan bertambah makmur rakyatku memilikimu. Kau bisa mengajarkan pada kami pengetahuanmu tentang pengobatan. Sehingga ilmumu tidak sia-sia.”

Putri Tanjung Selimpat mengangkat kepalanya. Sekali lagi ditatapnya Raja Pulang Palih, sementara pengawal memerhatikan dari tempat yang agak jauh. Putri menimbang tawaran sang Raja. Tapi dari sekian pikiran buruk, tetap saja pikiran baik tentang laki-laki ini jauh lebih banyak. Lagi pula, jika ia menikah denga Raja Landak, maka Tanjung Selimpat akan memiliki sekutu. Apabila suatu waktu daerahnya diserang, ia bisa mendapatkan bantuan dari Landak.

Raja Pulang Palih akhirnya menikahi Dayang Selimpat dengan meminta restu Pating Gumantar sebelumnya. Pesta pernikahan dilangsung meriah dan setelah hari yang ditentukan diboyonglah Dayang Selimpat ke istana Raja Pulang Palih di Tembawang Ambator.

Sekitar beberapa bulan setelah pernikah Raja Pulang Palih dan Dayang Selimpat, akhirnya Dayang Selimpat mengantung. Sekitar usia kandungan menjalani lima bulan terdengar kabar bahwa kerjaan ayah Dayang Selimpat diserang kerajaan Biaju dan kepala Patih Gumantar berhasil dikayau lalu dibawa ke wilayah Biaju. Dengan rasa sedih teramat sangat, Dayang Selimpat meminta Raja untuk merebut kembali kepala ayahnya. Rajapun mengabulakan permintaan itu.

Patih Gumantar dikenal sebagai raja yang berjaya dan sangat kaya raya, sehingga banyak yang ingin merebut kekayaan dan kedudukannya. Pasukan dari kerajaan MIAJU (ada yang bilang: BIAJU) nekad menyerangnya dengan kekuatan besar sehingga mengalahkan kerajaan Patih Gumantar dengan terkayaunya kepala Patih Gumantar. Tengkorak kepala Patih Gumantar diyakini memiliki khasiat yang luar biasa bagi kerajaan Miaju, sehingga dibawa pulang dan dijaga ketat dengan menempatkannya didalam sebuah tajau (balanga) yang disebut Tajau Tarus.

Menurut sumber cerita, Saat itu termasuk masa bertanam, jadi masyarakat dan abdi kerajaan terfokus pada olah perladangan bersama masyarakat. Keadaan ini mungkin ditolak oleh pemikiran karena kalah dengan sebab perladangan. Namun kalau kita melihat situasi pada masa itu, tidak bisa kita menyamakan kerajaan Mempawah dengan kerajaan lainnya. Karena dengan besarnya kerajaan, bisa jadi membuatnya merasa aman dan lengah. Keadaan ini membuat pertahanan kerajaan lemah dan riskan yang akhirnya dimanfaatkan oleh pasukan Miaju untuk menyerang kerajaan Patih Gumantar.

Kalahnya kerajaan membuat dua wilayah Dayak antara Banyuke dan Mempawah Ulu berkayau setelah kejadian tersebut. Orang Banyuke mengganggap orang-orang Mempawah Ulu tak mampu menjaga Patih Gumantar dan semenjak kejadian itu Kerajaan Mempawah tidak berjalan sebagaimana mestinya (vacuum) selama 200 tahun. Hal ini juga disebabkan keturunan Patih Gumantar sebanyak tujuh orang semuanya perempuan.

bersambung ke bagian 2, Legenda Riya Sinir dan Dara Itam 3

Sumber data :
Foto: Koleksi Sanggar Borneo Tarigas Pontianak, Kalimantan Barat.
Cerita langsung beberapa tokoh masyarakat, penggiat budaya, dan pelaku seni tradisi, https://nopinopia.blogspot.com/, dan https://folksofdayak.wordpress.com/
Mau beli alat musik tradisional Kalimantan?
hubungi: 0898 8566 886 - 0811 5686 886.
Mau Lihat alat musiknya? klik link berikut
LIHAT ALAT MUSIK DAYAK atau LIHAT ALAT MUSIK MELAYU
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar