Informasi Seni Budaya Bumi Enggang Khatulistiwa

Tersesat Dalam Rimba Karya Seni

Salah Menafsir Konsep Karya

Banyak seniman yang menghindari konsep karya, sampai ada yang berang meradang dan mengatakan bahwa konsep karya adalah suatu yang tidak harus ada. Ada juga yang berpendapat konsep itu seperti hantu yang seharusnya diusir dengan berbagai mantera (alasan) dari ranah kekaryaan.

Seniman mencerna dilema, lalu pusing, dan menyalahkan berbagai ide dalam pengkaryaan. Sampai dia menyalahkan orang lain secara membabi buta. Akhirnya seniman sesat sendiri dalam rimba karya, tanpa mau peduli kapan ia sadar, bangkit, dan berusaha memahami dunia ide dan konsep yang sebenarnya sudah lahir ketika dia berkarya.

Konsep itu suatu hal yang melatarbelakangi seseorang melahirkan karya. Ketika kamu berpikir tentang suatu hal yang akan diangkat ke dalam karya, sesungguhnya itu sudah konsep. Itu ide penciptaan yang sebenarnya sudah termasuk bagian dari konsep. Ketika kamu memutuskan untuk mengangkat ide dalam sebuah karya dan memikirkan bentuknya, itu juga sudah termasuk konsep.

Sseorang seniman akan merancang terlebih dahulu apa yang ingin diwujudkan ke dalam karya. Ketika seniman melukiskan pada bidang dengan medium tertentu, tentunya akan diwujudkan sesuai rencana yang sudah ia susun dalam dunia khayalnya (aristoteles menyebutnya ini dengan mimesis). Itu juga Konsep. Ketika kita bicarakan cerita dalam sebuah karya, tentunya cerita itu kita tangkap dan kita endapkan dalam ruang perenungan, ini juga termasuk konsep.

Ketika kita berusaha mewujudkan bentuk sampai mengejar pada suatu titik yang kita tentukan, Itu juga bagian dari konsep. Sampai karya itu dipajang atau dipentaskan, sampai kita menjawab berbagai hujatan bahkan cacian dari banyak orang, itu juga bagian dari perjalanan konsep. Jadi secara biasa atau luar biasa, mau atau menolak, enak atau mau muntah sekalipun, kenyataannya seniman tidak bisa lepas dari dunia konsep.



Karya Tanpa Konsep

Sekarang mari kita bahas karya tanpa konsep dengan pertanyaan sederhana. Adakah karya langsung dibuat tanpa mikir, tanpa rencana, tanpa komposisi, tanpa apapun yang melatar belakanginya? jauh kemungkinan kalau kamu berkarya hanya mencoret, menabuh, atau bergerak tanpa didasari dari dunia logika untuk menuju tatanan estetik dalam sebuah karya. Kalau itu ada, pastinya tidak mungkin langsung berkarya tanpa alasan. Karena sekecil-kecilnya alasan dalam berkarya adalah keinginan, dalam bentuk apapun dan dalam alasan apapun.

Katika ada keinginan, maka kita sebenarnya sudah bersinggungan dalam dunia konsepsi pengkaryaan. Nyatanya tidak ada seniman lepas dari jerat konsep ketika berkarya. Kalau pendapat kalian ada, saya hanya takut itu bukan tanpa konsep, tapi hanya lari dari jerat konsep yang dianggap membebani dirimu. Coba kamu pikir kembali secara seksama.

Konsep itu bukan hantu. Konsep juga bukan tetanggamu yang selalu terdengar ribut ketika malam buta. Konsep juga bukan mie tiaw yang sekedar dinikmati, kenyang, dan tersandar kekenyangan. Konsep bukan itu semua. Konsep adalah kerangka, rencana, dan ide awal penciptaan. Jika kamu menolaknya, kamu sudah berdusta ketika berkarya. Konsep juga bukan algojo yang akan menjerat karya kamu ditiang gantungan. Yang mematikan sebuah karya adalah liarnya pemikiran dan sesatnya penafsiran.

Ketika manusia hidup dan menjalani kehidupan, semua sudah terkonsep secara otomatis, namun ada juga yang didapat dari belajar yang akhirnya kita sepakati dengan nama pengalaman. Seberapa jauh konsep anda ditentukan oleh seberapa jauh anda dapat berargumen mengenai karya yang anda buat. Aneh saja kalau ada seniman yang tidak mengerti karyanya.

Akhirnya... silahkan beropini, silahkan menolak konsep, dan silahkan menari diatas penafsiran anda sendiri. Namun hanya satu pesan saya, kalau sesat dalam rimba karya, jangan menyalahkan manusia lainnya. Tapi carilah dalam tanya dan mau menyadur bisikan singkat dari manusia mana saja. Kalau anda dapat seperti ini, berarti hati anda sudah terbuka seperti langit, itulah kebebasan berkarya sesungguhnya.

Jangan terlalu banyak keluhan dan alasan dalam berkarya. Akhirnya kamu hanya mencoba mencari pembenaran buta. Silahkan terus berkarya dan fahami diri dan karya anda. Bukan menghujat, apalagi sekedar mencela tanpa dasar. Jangan pernah mencela karena kecewa, apalagi hanya untuk menutupi kelemahan anda. Satu lagi yang perlu saya ingatkan, jangan menangis ketika sesat di rimba karya... tidak pernah sejarah purba membantumu untuk menemukan dirimu sendiri. Kecuali menerima kenyataan dan berdamai dengan keadaan. Ingat itu... saya yakin kamu akan menjalaninya.
---------------------
Sampai ketemu di rimba karya selanjutnya
by mbah dinan


Mau beli alat musik tradisional Kalimantan?
hubungi admin : 0898 8566 886 - 0811 5686 886.
Mau Lihat alat musiknya? klik link berikut
LIHAT ALAT MUSIK DAYAK atau LIHAT ALAT MUSIK MELAYU

Artikel Terkait:

Tambahkan Komentar Sembunyikan

© 2017 Blog Mbah Dinan - Template Created by goomsite And Otomologi- Proudly powered by Blogger