ADMIN

MBAHDINAN.COM

Mbah Dinan : Komposer musik Dayak dan peneliti independen budaya musik etnis Kalimantan Barat.
Email:
mbahdinan86@gmail.com
Kontak:
0898 8566 886
0811 5686 886
Blog Seni Budaya Kalbar

Informasi seni budaya bumi enggang khatulistiwa

Penjualan Alat Musik Dayak

Penjualan satu set Alat Musik Dayak Kalimantan Barat

Penjualan Alat Musik Melayu

Penjualan satu set Alat Musik Melayu Kalimantan Barat

Ternyata Kita Bukan Manusia Lagi

Kabut Asap Semakin Pekat - Kita sebagai manusia itu kadang melupakan sisa perjalanan. Kita hanya mengejar posisi dan kedudukan yang menurut kita nyaman. Nyaman untuk masa depan, nyaman menurut ukuran dan nilai manusia lainnya hingga kita dibilang mapan dan terhormat, dan nyaman untuk dinikmati dalam kehidupan kita. Padahal itu semua belum tentu sebuah penacapaian yang baik, untuk kemaslahatan hidup manusia itu sendiri, maupun kehidupan selanjutnya setelah mati.

Kita sebagai manusia hanya memandang sisi baiknya untuk kita rasakan. Jarang sekali berempati terhadap penderitaan sesorang. Kita sudah melupakan sejarah perjalanan kita sendiri yang dibangun dengan kebersamaan dan kasih saying. Artinya kita sudah mulai mementingkan diri sendiri. Tanpa mau peduli dengan satu langit dimana kita hidup dibawahnya, satu udara yang kita hirup bersama, dan satu tanah yang kita pijak bersama. Artinya siapa yang paling banyak menikmati kenyamanan dari semua itu, itulah yang terhormat dan pemenangnya. Sementara kita lupa, kalua kita sudah ditipu pemikiran akan kenyamanan itu sendiri.


Kita adalah jargon ambisi yang mewakili nafsu dalam langkah dan ujaran kita. Bodohnya lagi kita mengakui paling benar dan merasa paling hebat dalam melihat kejadian yang menimpa saudara kita. Misalnya saja kabut asap yang terjadi dibeberapa daerah di Indonesia. Banyak manusia yang katanya terhormat, pejabat, dan orang-orang sok pintar menanggapi masalah kabut asap yang menyita kenyamanan hidup masyarakat. Hebatnya lagi ada saja pejabat kementerian yang menyalahkan petani membuka lahan. Padahal petani tradisional sejak jaman dulu membuka lahan dengan cara tebang bakar, tidak juga ada kabut asap seperti sekarang ini.



Banyak manusia yang katanya bijak saling tuding lalu ujung-ujungnya mentok dan menyalahkan petani. Mereka tidak mau melihat adanya permaianan nakal pemilik perkebunan. Liciknya mereka membakar lahan bersamaan dengan petani membuka lahan kecil mereka. Padahal petani hanya membuka sepetak duapetak sawah yang sedikit sekali material bakarannya. Kalaupun ada kabut asap tidak akan banyak. Selain itu petani juga membuat batas agar api tidak merembet ke lahan sebelah. Artinya mereka menjaga ketika lahan itu dibakar, bukan ditinggalkan begitu saja, sehingga pembakaran lahan tidak meluas. Beda dengan permainan nakal para pemilik perkebunan beserta pejabat daerah yang melindunginya. Mereka asal bakar, tinggalkan, lalu tidak perduli dengan pembakaran yang nantinya akan meluas dan berbahaya.

Kita sudah tidak perduli lagi dengan sahabat, kerabat, dan manusia lainnya. Kita hanya bisa berpura-pura miris namun membiarkan saja hal itu terjadi. Kita hanya bisa ngomong kalau itu semua perlu hukum yang tegas dan penanganan solutif yang sama sekali tidak ada hasilnya. Ditambah lagi dengan kunjungan yang akhirnya memamerkan sepatu kotor seakan kalian sudah bekerja. Yah... sebuah kerja konyol yang membuat kebingungan baru di kalangan saudara kita dimana mereka semakin terpuruk dalam persetubuhan liar dengan kabut asap yang semakin menggila.

Bantuan dari saudara sendiri ditolak lalu memasukkan bantuan dari negara aseng dalam menangani masalah kabut asap. Padahal kita tau kaum aseng itu faham lokasi, kultur, dan alam serta hutan kita yang terbakar saja nol besar. Maka akan merepotkan penanganan dan yang jelas bisa menimbulkan prasangka liar diantara kita. Konflik batin bahkan sosial bisa saja terjadi, karena kalian menganggap bijak penangan masalah karhutla dan embas kabut asapnya, namun tidak mau perduli dengan konflik selanjutnya.


Kita memang konyol dan lebih parah lagi kekonyolan itu kita anggap prestasi. Mungkin kita sudah termasuk orang-orang gila, yang hanya mengerti tentang jabatan, kedudukan, dan kehormatan. itu semua kita lakukan untuk memperjuangkan kenyamanan. Tanpa sadar, perlahan, namun pasti, kita menjadi robot keangkuhan yang membunuh saudara kita sendiri. Semua jargon keberhasilan semua itu kita sematkan dalam kata perjuangan. Sungguh miris bukan? Ternyata kita bukan manusia lagi.
Mau beli alat musik Dayak Kalimantan Barat? hubungi admin di +62 898 8566 886 - +62 811 5686 886. Atau Mau Lihat alat musiknya? klik link berikut
LIHAT ALAT MUSIK DAYAK atau LIHAT ALAT MUSIK MELAYU

You Might Also Like:

Disqus Comments

GET UPDATES