Informasi Seni Budaya Bumi Enggang Khatulistiwa

Objek Estetis Menurut Edward Casey

Komentar Edward S. Casey atas Mikel Dufrenne 

Dikutif dari tulisan P. Hardono Hadi, Ph.D. pada Kuliah Perdana Program Paska Sarjana Institut Seni Indonesia di Yogyakarta, 13 September 2011

Edward S. Casey
adalah salah seorang anggota tim penerjemah dari Northwestern University Press, yang menerjemahkan buku Phénoménologie d’expérience esthétique, karangan Mikel Dufrenne ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Phenomenology of Aesthetic Experience. Dia memberikan prakata untuk terjemahan itu. Di dalam prakata dia membeberkan isi pokok buku tersebut dan memberi komentarnya. Berikut ini adalah gagasan pokok yang ditulisnya.

Buku ini membahas gerakan yang mulai dari pemikiran mengenai objek estetik ke teori terkait dengan persepsi atas objek tersebut. Perlu diingat bahwa objek estetik dan persepsi estetik tidak terpisahkan. Keduanya saling tergantung dan mengandaikan. Buku ini diakhiri dengan serangkaian refleksi yang bersifat transendental dan ontologis yang mengatasi dialektika subjek-objek. Hal ini menunjukkan bahwa struktur internal karya ini bersifat tripartit, yang melibatkan objek estetik, subjek yang mempersepsi, dan pendamaian subjek dan objek.


Objek estetik

Objek estetik dibedakan dari karya seni. Karya seni adalah dasar strutural permanen bagi objek estetik. Dia berada baik dipersepsi atau tidak, sementara objek estetik hanya berada sebagai tampilan, hanya sebagai yang dialami oleh penikmat. Karya seni yang dipersepsi secara estetik menjadi objek seni. Pendeknya, di dalam mempersepsi karya seni secara estetis kita tidak berurusan dengan bahannya sendiri, tetapi dengan apa yang oleh Dufrenne disebut ‘rasa’ (the sensuous, le sensible). Jadi objek estetik merupakan tampilan rasa di dalam keagungannya. Namun, rasa  estetik objek estetik mempunyai sifat yang menuntut dan memaksa, meminta penikmat untuk memberi hormat pada ‘kehadirannya yang tidak terelakkan dan elok sekali.

Meskipun begitu, rasa bukanlah satu-satunya komponen dari objek estetis. Unsur pembentuk lainnya adalah meknanya. Objek estetis bukanlah objek tanpa makna, tetapi justru penuh makna. Di dalam pengalaman estetik, berbeda dari konteks pengetahuan atau tindakan, makna mempunyai peran yang berbeda. Makna dalam pengalaman estetik mematok kita pada rasa sendiri, yang menunjukkan struktur internalnya. Maka makna di dalam seni berisfat imanen di dalam rasa, menjadi organisasinya sendiri, bukannya tidak eksis atau transenden. Oleh karenanya, estetik objek berubah menjadi ‘quasi’ subjek, yang mampu memuat hubungan spasio-temporal internal dalam dirinya sendiri. Hubungan-hubungan ini membentuk “dunia” objek estetik. Dunia objek estetik ini mempunyai sifat afektif dan bermuatan kompleks dan koheren. Karena objek estetik mencakup dasar rasa dan dunia inheren, dia memiliki kombinasi dari objek di dalam dirinya sendiri dan objek bagi dirinya sendiri.


Subjek yang mempersepsi

Objek estetik ada untuk dipersepsi oleh kita sebagai penikmat. Dia adalah benda rasa yang hanya terwujud di dalam persepsi. Dia berada bagi kita bukan karena dirancang untuk menyenangkan kita tetapi karena membutuhkan kita agar mempersepsinya. Kita sebagai penikmat merupakan saksi penting, yang diundang untuk menegaskannya di dalam otonominya. Keberadaan objek estetik hanya terjadi di dalam kesadaran penikmatnya. Untuk itu, kita tidak dapat tetap diam secara pasif: seni bukanlah kontemplasi murni. Kita harus secara aktif terlibat di dalam objeknya sendiri, bahkan sampai pada titik di mana kita hilang atau teralienasi di dalamnya.
Tetapi keterlibatan penikmat hanya terbatas pada persepsi. Menurut Dufrenne persepsi berkembang dalam tiga tahap:
  1. Pada tingkat kehadiran, persepsi terjadi secara prareflektif dan menyatu dengan tubuh. Di sinilah kita mengalami kekuatan yang tidak dapat ditolak dari rasa dan menyerahkan diri kepada kekuatan ini melalui tubuh kita.
  2. Pada tingkat selanjutnya, yaitu tingkat representasi dan imajinasi, persepsi cenderung mengobjektifikasi, membentuk mutan awal dari kehadiran yang dipersepsi menjadi benda atau peristiwa tertentu. Tetapi imajinasi, menurut Dufrenne, tidak memainkan peran sentral di dalam pengalaman estetik. Tampilan objek estetik sudah sangat fasih dan berkata begitu banyak sehingga tidak perlu elaborasi lebih lanjut.
  3. Tingkat terakhir dari perkembangan persepsi yang penuh adalah tahap refleksi dan rasa. Ketika persepsi mengikuti alur normalnya, dia cenderung bermuara ke pemahaman dan pengetahuan dengan menjadi semacam refleksi objektif. Tetapi persepsi dapat juga mengarah ke jenis refleksi lain yang bersifat ‘simpati’ daripada mengobjektifikasi dan lebih dekat dengan perasaan daripada pemahaman. Refleksi itu memperjelas dan membantu perasaan, masuk ke dalam hubungan dialektis dengannya. Di dalam proses, persepsi menjadi benar-benar estetik, karena di atas segalanya ,melalui perasaanlah bahwa objek estetik dapat dijangkau. Perasaan, yang muncul dari kedalaman subjek yang mempersepsi, memungkinkan penikmat untuk menanggapi kedalaman objek estetik, yaitu dunia ekspresinya. Tanggapan ini bukan melulu bersifat emosional, tetapi terjadi dalam pemahaman atau “pembacaan” terhadap kualitas affektif yang mewarnai dunia ekpresi. Maka, melalui perasaan, kita menghubungkan diri dengan ekspresi yang melekat pada objek estetik.


Perasaan ini selalu menjadi perasaan seseorang, yaitu ekspresi kedalaman manusia sebagai subjek. Maka, melalui perasaan sajalah, manusia sebagai subjek menjadi hadir di dalam objek estetik. Kehadiran khusus ini terjadi dalam dua cara:
  1. Pertama, si seniman hadir di dalam objek yang diciptakannya – melalui dunia ekspresi yang dimasukkannya ke adalam objek estetik. Objek estetik memuat subjektivitas dari subjek yang menciptakannya, yang mengekspresikan diri di dalamnya, yang selanjutnya diungkapkannya.
  2. Kedua, penikmat hadir di dalam objek estetik juga. Melalui pembacaan ekspresi, dan dengan terus-menerus menyalurkan sumber-sumber daya perasaannya sendiri, dia melibatkan diri dalam dunia ekspresi. Kedalamannya mengimbangi kedalaman objek, dan dia tidak dapat bertingkah seolah-olah menjadi penonton pasif.

Subjek dan objek berpadu

Kutub subjektif dan kutub objektif di dalam analisis Dufrenne tidaklah seutuhnya terpisah, ini jelas dalam klaimnya bahwa unsur rasa di dalam seni merupakan sesuatu yang melibatkan penikmat maupun objek estetik. Rasa merupakan kegiatan yang menyangkut orang yang merasakannya dan apa yang dirasakan. Jadi rasa merupakan tertium quid (pihak ketiga) bagi kedalaman dunia eskspresi dan kedalaman penikmat dunia itu. Rasa bukan hanya puncak dari persepsi estetika tetapi merupakan titik temu yang menyatukan subjek dan objek di dalam pengalaman estetik.

Perpaduan subjek dan objek di dalam pengalaman estetik lebih lanjut diungkapkan dalam dimensi ‘transendental’ pengalaman. Sifat affektif objek estetik tidak hanya mewarnai tetapi membentuk dunia ekspresinya, bertindak sebagai prinsip pemandunya. Ini berarti objek estetik mempunyai status a priori ‘kosmologis’ yang berfungsi uuuntuk menata dunia ekspresi.  Sebaliknya, subjek yang mempersepsi juga menampilkan aspek a priori. Subjek ini tidak dapat menangkap struktur a priori dari dunia ekspresi kalau subjek itu tidak mempunyai kategori-kategori affektif yang memungkinkannya mengenali sifat affektif sebagai kualitas tertentu – seperti ‘tragis’, ‘agung’, atau yang lain. Dengan begitu pada tingkat a priori subjek dan objek mewujudkan perpaduan yang mendalam.


Di balik perpaduan itu adalah kesatuan. Dan kesatuan ini berada pada tingkat ontologis yang menyatukan yang eksistensial dan yang kosmologis – manusia dan dunia. Inilah dasar teori kebenaran Dufrenne. Seni dapat benar karena baik seni maupun kenyataan sendiri hanyalah aspek dari ada yang mencakup semuanya. Seni justru mencerahi kenyataan. Tetapi itu hanya terjadi melalui rasa. Jadi seni mencapai kebenaran bukan dengan representasi atau imitasi kenyataan, tetapi dengan menyampaikan dan mengungkapkan essensi affektif di dalam dirinya.

Kritik Utama Casey

Casey menjelaskan isi buku Dufrenne sampai pada penjelasan lebih rinci mengenai kebenaran. Tetapi yang pokok di sini adalah kritiknya bahwa banyak persoalan yang dimunculkan oleh buku ini yang tidak terselesaikan. Soal pokok yang diutarakannya adalah “apakah estetik murni, yaitu sistem kategori estetik yang lengkap, dapat disusun?” Dan Dufrenne tidak memberi ketegasan mengenai hal ini. Menurut analisis Casey justru di situlah menariknya buku Dufrenne, menimbulkan banyak pertanyaan yang tidak terjawab, sehingga masih banyak ruang untuk mengembangkannya.

Sumber Pustaka :

Dufrenne Mikel, The Phenomenology of Aesthetic Experience, Evanston: Northwestern University Press, 1973


Mau beli alat musik tradisional Kalimantan?
hubungi admin : 0898 8566 886 - 0811 5686 886.
Mau Lihat alat musiknya? klik link berikut
LIHAT ALAT MUSIK DAYAK atau LIHAT ALAT MUSIK MELAYU

Artikel Terkait:

Tambahkan Komentar Sembunyikan

© 2017 Blog Mbah Dinan - Template Created by goomsite And Otomologi- Proudly powered by Blogger